Tampilkan postingan dengan label Techno Astro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Techno Astro. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2012

Teleskop dan Observatorium Paling Top Di Dunia


Dua mata lebih baik dari satu. Twin optik / teleskop inframerah, Observatorium Gemini adalah terpisah, tetapi bersama-sama, mereka dapat mengakses seluruh langit. Gemini Selatan terletak sekitar 9 000 meter di Andes Chili, Gemini Utara (foto) adalah di bagian atas Mauna Kea, rumah bagi sebuah komunitas internasional teleskop mengintip ke langit malam, melalui suasana yang sangat baik Hawaii.

European Southern Observatory
Teleskop dengan panjang 3,5 m , merupakan teleskop pertama di dunia yang memiliki cermin utama yang dikendalikan oleh komputer. Bahkan bidang amatir sekarang memiliki teknologi. Bersama teleskop ESO di Gurun Atacama di Chili, juga termasuk array Very Large Telescope (digambarkan), observatorium utama di Eropa. ESO ini juga rumah bagi beberapa milimeter Eropa Atacama Besar / sub-milimeter Array, dikenal sebagai ALMA, sebuah kolaborasi antar Amerika Utara dengan Asia Timur dan Chile. ALMA akan menjadi The Biggest Earth Radio Observatorium Astronomi Observatorium dan paling maju di dunia. Yang membawa kita ke Observatorium berikutnya yang lebih tinggi.
National Radio Astronomy Observatory (NRAO)
Beberapa situs termasuk Observatorium Teleskop Green Bank, Array Sangat Besar (digambarkan), alas set yang sangat besar dan masa depan ALMA AS. Baru-baru ini, para ilmuwan telah menggunakan data Green Bank untuk mencari frekuensi dari molekul di ruang antar bintang.
Chandra/Spitzer Space Telescopes
Salah satu observatorium NASA yang terkenal (selain Teleskop luar angkasa Hubble) telah memberikan gambaran sekilas tentang alam semesta yang tidak dapat dilihat. Orbit elips dari Chandra X-Ray Observatory, yang membawanya pergi dari Bumi, memberikan pandangan yang lebih baik dari daerah tinggi berenergi ruang, seperti supernova. Gambar dari Chandra telah membantu para ilmuwan lebih memahami dan pulsar nebula.
Corot/Kepler Space Telescopes
NASA meluncurkan Teleskop Kepler bulan lalu, dan membersihkan nya minggu ini, sehingga dapat mulai melakukan pengamatan. Satu di Perancis dan satu di Amerika.
W. M. Keck Observatory
Keck’s twin 10-meter, 8-story, 300-ton telescopes. Setiap cermin utama terdiri dari 36 segmen heksagonal yang bekerja sama sebagai sebuah kesatuan dari kaca – teknik revolusioner yang memungkinkan pencapaian cermin besar. Mereka telah membantu para ilmuwan membuat beberapa penemuan mengejutkan: adanya galaksi di pinggiran alam semesta, mempelajari supernova untuk menentukan tingkat ekspansi alam semesta, sifat puncak gamma-ray dan, baru-baru ini, planet di sekitar bintang-bintang lainnya.
Mount Wilson Observatory
Dari kereta keledai digunakan untuk membawa cermin 60-inci ke puncak gunung. Gunung Wilson merupakan evolusi observatorium modern, dan salah satu tempat paling penting di sejarah ilmiah . George Ellery Hale 60-inci, yang tidak lagi digunakan untuk penelitian, ini akan digunakan untuk studi klasifikasi spektral bintang, yang merupakan dasar dari astronomi modern. 60-inci Teleskop Hale merupakan yang terbesar di dunia 100 tahun yang lalu, tetapi dalam waktu 10 tahun, digantikan oleh lingkup 100-inci berikutnya. Edwin Hubble menemukan bahwa noda-noda dari nebula, bahwa alam semesta berkembang, dan bahwa kecepatan sepadan dengan perluasan Big Bang atau penciptaan. Observatorium Mount Wilson menjadi observatory primer selama 40 tahun.

Jumat, 07 September 2012

2,5 Tahun Lagi, Telkom Siap Luncurkan Satelit Baru



Pasca kegagalan peluncuran Satelit Telkom-3, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk segera menyiapkan pengganti satelit yang tidak mencapai orbit 36.000 kilometer tersebut. Dalam jangka waktu sekitar dua tahun lagi, Telkom akan memiliki satelit baru.

"Sekitar itu, karena manufakturing sama, tidak perlu bangun lagi. Dua tahun untuk bangun, enam bulan untuk desain," kata Direktur Utama Telekomunikasi Indonesia, Arief Yahya, di Jakarta, Jumat 5 September 2012.

Meski demikian, Arief belum membeberkan perusahaan mana yang akan digandeng untuk pembuatan satelit tersebut. "Yang kami pertimbangkan kompetisi harga dan coverage pasar," ucapnya.

Ia mengatakan, sebenarnya Satelit Telkom-3 belum sepenuhnya dimiliki oleh Telkom. Instalasi luar angkasa tersebut masih dimiliki oleh vendor, ISS Reshetnev.

Dalam peluncuran satelit, Arief melanjutkan, Telkom lebih menekankan keamanan nasional. Untuk itu, pihaknya memilih opsi membeli satelit dibandingkan menyewa satelit.

"Dalam hal bisnis sewa dan beli hampir sama. Kalau kami tak pikirkan keamanan nasional, sewa saja tak ada masalah," ujarnya.

Soal harga pembelian satelit baru pengganti Telkom-3, Arif belum berbicara banyak. Ia hanya memberikan gambaran bahwa harga sewa berkisar US$900 ribu hingga US$1 juta per transponder. Selanjutnya, ia mengatakan, nantinya empat transponder akan digunakan untuk keperluan internal, sedangkan 24 transponder lainnya akan disewakan.

"Kawasan timur RI butuh transponder. Itu nanti 2013 atau 2014, satelit paling cepat untuk kebutuhan itu," katanya.

Terkait dengan kelanjutan investigasi Satelit Telkom-3, pihaknya hanya menunggu tindak lanjut dari vendor dan badan antariksa Rusia, Roscosmos, yang berhak merilis keterangan resmi apa yang terjadi.

Saat ini, Telkom masih mengandalkan satelit Telkom-1 dan Telkom-2. "Meski Telkom-3 gagal, untungnya itu full asuransi dan tidak mengganggu jaringan," tuturnya.

Sabtu, 01 September 2012

Luncur Tahun Depan, Ini Fungsi Satelit A2 LAPAN

Satelit Tubsat Lapan pernah mengambil citra Kawah Merapi

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) siap meluncurkan satelit A2. Kelak, satelit ini akan menjalankan misi pengamatan bumi, pemantauan kapal dan komunikasi radio amatir pada pertengahan tahun depan.

Satelit ini merupakan suksesor satelit LAPAN sebelumnya, Satelit A1 Tubsat. Selain memiliki kemampuan memantau permukaan bumi melalui video survailence seperti dalam Satelit A1 Tubsat, dalam versi A2 ini ditambahkan sensor yang lebih, canggih yaitu receiver Automatic Identification System (AIS), muatan radio amatir melalui Automatic Posisition Reporting system (APRS) dan kamera video analog dan digital yang lebih baik.

Sensor Automatic Identification System (AIS) berfungsi untuk mendeteksi kapal laut yang melewati perairan Indonesia. Teknologi ini bahkan juga mampu mendeteksi potensi pencurian ikan di perairan Indonesia.

"Setiap kapal legal dilengkapi dengan transmitter, jadi terlacak posisinya," ujar Robertus Heru Triharjanto, Kepala Bidang Teknologi Bus Satelit, di Pusat Satelit LAPAN, Rancabungur, Bogor, Jumat 31 Agustus 2012. Untuk saat ini, semua transmitter kapal laut akan di-upgradeuntuk menyesuaikan dengan sensor AIS.

Sementara sensor Automatic Posisition Reporting system (APRS) berfungsi menyediakan fasilitas komunikasi untuk bantuan mitigasi bencana melalui komunikasi teks dan suara via radio amatir.

"Misalnya terjadi bencana, dan komunikasi mati, data dari satelit ini memberikan bantuan komunikasi alternatif melalui radio amatir," tambahnya.

Dua kamera video yang dipasang dalam satelit ini mempunyai resolusi tingkat tinggi 6 m dengan jangkuan masing-masing 12 Km x 12 Km dan 3,5 Km x 3,5 Km. Satelit berdimensi kubus dengan ukuran 50x47x38 cm dan berat 78 kg ini akan diluncurkan melalui roket PSLV-C23 milik India pada pertengahan tahun depan.

"Dalam peluncuran nanti, satelit kita hanya piggy back (muatan roket) saja. Jadi kita menunggu muatan utama roket tersebut," kata Suhermanto, Kepala Pusat Satelit LAPAN.

Seluruh proses pembangunan satelit ini yang meliputi uji coba, desain, perancangan dan operasi dilakukan dari Indonesia. "Begitu diluncurkan kita akan pantau melalui tiga stasiun satelit LAPAN di Serpong, Bogor dan Biak (Papua)," katanya.

Satelit ini akan mengorbit pada ketinggian 650 Km dengan pola equatorial yang menyusuri wilayah RI sebanyak 14 kali, lebih sering jika orbit satelit polarial. "Jadi ini akan lebih optimal memantau wilayah perairan RI, kita juga lakukan optimalisasi kendali satelit agar lebih presisi," ucap Suhermanto. 

Suhermanto juga menambahkan, untuk proses peluncuran sampai satelit lepas dari roket sudah diasuransikan.

Jumat, 31 Agustus 2012

Buat Satelit, NASA Gunakan Smartphone Android


PhoneSat, satelit NASA yang berbasis Android
Badan Antariksa Amerika Serikat sedang menargetkan untuk bisa meluncurkan sejumlah lini satelit kecil, yang lebih mudah dan murah. Satelit itu akan dinamakan "PhoneSats".

Mengutip laman Mashable, untuk mencapai itu para insinyur NASA menggunakan smartphone Android yang belum dimodifikasi, untuk menampilkan sejumlah fungsi kunci satelit. Prototipe smartphone yang digunakan antara lain sejumlah smartphone HTC, Google Nexus One, dan Samsung Nexus S.
PhoneSat, satelit NASA yang berbasis Android
NASA pun kemudian menjelaskan di situsnya, smartphoneyang digunakan "menawarkan kemampuan yang dibutuhkan untuk sistem satelit, termasuk prosesor cepat, sistem operasi yang mudah diadaptasi, multiple miniature sensors, kamera beresolusi tinggi, penerima GPS, dan radio.

"Pendekatan ini memungkinkan para insinyur untuk melihat kemampuan yang disediakan teknologi komersial, daripada untuk mencoba mendesain teknologi yang dikustomisasi sesuai kebutuhan," demikian pernyataan NASA.

Total pengeluaran untuk prototipe satelit ini mencapai US$ 3.500. Tiga satelit diharapkan bisa diluncurkan, dengan menumpang penerbangan pertama roket Antares milik Orbital Science Corporation. Peluncuran akan dilakukan dari fasilitas milik NASA di Pulau Wallops, Amerika Serikat, beberapa waktu mendatang.

Satelit LAPAN A2 Siap Meluncur Tahun Depan


Ilustrasi satelit
 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah merampungkan pembuatan satelit Lapan A2. Satelit ini akan diluncurkan ke orbit tahun depan.

"Satelit ini akan diluncurkan dengan menggunakan roket India dari Sriharikota," kata Kepala Bagian Humas LAPAN, Elly Kuntjahyowati dalam keterangan tertulis yang diterimaVIVAnews, Kamis 29 Agustus 2012.

Lapan A2 merupakan satelit kedua yang dibuat oleh Indonesia. Satelit pertama buatan Indonesia adalah Lapan-Tubsat, yang diluncurkan pada 2007 dari India.

Lapan-Tubsat dibangun oleh para peneliti dan perekayasa LAPAN bekerja sama dengan Technische Universitat Berlin, Jerman. Hebatnya, meski diprediksi hanya mampu beroperasi selama dua tahun, Lapan-Tubsat masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.

Keberhasilan Lapan-Tubsat ini menjadi semangat LAPAN untuk mengembangkan Lapan A2. "Dan kali ini, satelit ini sepenuhnya dibangun di Pusat Teknologi Satelit LAPAN di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat," kata Elly.

Satelit Lapan A2, kata Elly, dirancang untuk tiga misi, yaitu pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir. Sejatinya, Lapan A2 merupakan satelit yang sama dengan Lapan-Tubsat. Bedanya, Lapan A2 punya sensor lebih bagus dari Lapan-Tubsat.

"Satelit ini (Lapan A2) memiliki sensor Automatic Identification System (AIS) untuk identifikasi kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati satelit. Dengan demikian, Lapan A2 mampu memantau lalu lintas di wilayah laut Indonesia," ujar Elly.
Orbit Ekuatorial
Dia menjelaskan, satelit seberat 78 kilogram ini akan mengorbit pada ketinggian 650 kilometer. Lapan A2 juga akan melintas wilayah Indonesia sebanyak 14 kali sehari dengan lama waktu melintas selama 20 menit.

Pada orbit AIS, Lapan A2 mampu mendeteksi dalam radius lebih dari 100 kilometer. Satelit ini nantinya mampu menerima sinyal maksimal 2000 kapal dalam dalam satu daerah cakupan.

Elly menambahkan, Lapan A2 akan mengorbit secara ekuatorial. "Nantinya, Lapan A2 akan menjadi satelit pemantauan bumi pertama di dunia yang memiliki orbit ekuatorial," ujar Elly. 

Kamis, 23 Agustus 2012

Misi Insight Bakal Selidiki Geologi Mars



Badan penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat NASA memutuskan untuk mengirimkan robot berbiaya rendah untuk menyelidiki inti Mars. Robot yang dinamai Insight itu akan didesain paling lama dua tahun dan akan dikirimkan pada tahun 2016.

Insight akan dibekali dua instrumen utama, yaitu seismometer yang dikembangkan Perancis dan termometer serta alat pengebor yang dikembangkan Jerman. Sementara, untuk menuju Mars dan menjalankan misinya, Insight bakal didayai tenaga surya.

Seperti diberitakan AP, Senin (20/8/2012), Insight dikirimkan sebab masih banyak misteri yang disimpan oleh inti Mars. Inti Mars tak memiliki medan magnet dan belum jelas apakah padat atau cair. Misteri lain adalah apakah ada gempa di Mars.

John Grunsfeld dari NASA seperti dikutip Reuters mengungkapkan, "Ini sesuatu yang menarik perhatian kalangan ilmuwan selama bertahun-tahun. Seismology adalah metode standar untuk memahami interior Bumi dan kita belum memiliki pengetahuan apapun tentang itu di Mars."

Sebagai robot berbiaya rendah, Insight takkan selengkap Curiosity yang mendarat di Mars 5 Agustus 2012 lalu. Meski demikian, Insight memiliki kelebihan. Robot ini mampu melakukan pengeboran sedalam 9,14 meter. Dengan peralatannya, Insight akan mengukur temperatur, sejarah gempa dan komposisi inti mars.

Insight berbiaya 425 juta dollar AS. Misi Insight akan dijalankan oleh Jet Propulsion Laboratory yang juga menangani misi Curiosity. Insight mengalahkan misi lain yang diajukan, yaitu misi penyelidikan metana cair di Titan, bulan Saturnus, serta robot yang akan menyelidiki perubahan cahaya Matahari di komet.

Rabu, 15 Agustus 2012

Peta 3D Alam Semesta Terbesar Memuat 400.000 Galaksi



Para ilmuwan mengembangkan peta semesta tiga dimensi terbesar yang pernah ada, memuat informasi paling detail tentang angkasa dengan 400.000 galaksi.
Peta yang dibuat sebagai bagian dari Sloan Digital Sky Survey III (SDSS III) itu ditargetkan memuat hampir sejuta galaksi hingga jarak 12 miliar tahun cahaya dari Bumi serta mampu mengukur jarak antargalaksi.
"Survei kali ini adalah misi paling besar yang pernah dilakukan dan volumenya lebih dari tiga kali lipat dari rekor sebelumnya," kata Daniel Eisenstein, astronom dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts, AS.
"Target kami adalah untuk memetakan seperempat dari seluruh langit dan kami baru mendapatkan sepertiganya," tambahnya seperti dikutip National Geographic, Kamis (9/8/2012) lalu.
Pembuatan peta menggunakan data yang diperoleh dari Apache Point Observatory in New Mexico. Eisenstein dan rekannya berharap dapat memahami tentang energi gelap, gaya yang menyebabkan semesta terus mengembang.

Ia mengatakan, dengan memetakan galaksi di citra 3D, efek energi gelap yang mengubah semesta sepanjang sejarahnya bisa diketahui.
Berdasarkan analisis para ilmuwan, jarak antara kluster galaksi yang terdapat di peta sesuai dengan model semesta yang mengikutsertakan energi gelap sebagai salah satu komponennya.
Lewat pengukuran secara akurat, Eisenstein dan rekannya bisa memetakan kluster galaksi selebar ratusan ribu tahun cahaya. Hasil pengukuran memberi petunjuk rupa semesta pada awal pembentukannya.
Pada masa awal kelahiran semesta, massa jenis materi yang menyusun galaksi saat ini tidak merata. Karena efek gravitasi, materi dengan massa jenis tinggi akan bergabung dengan materi massa jenis tinggi lainnya.
Seiring waktu, pengelompokan berdasarkan massa jenis semakin jelas, membentuk pola kluster yang dilihat astronom saat ini.
"Pola ini adalah jejak langsung dari apa yang terjadi pada detik pertama Big Bang. Kita melakukan survei semesta modern sebab itu menyimpan fosil rekaman yang terjadi pada masa lampau," papar Eisenstein.

Senin, 13 Agustus 2012

Indonesia Makin Canggih, Satelit Baru Kedua Siap Diluncurkan !


Satelit asli buatan Indonesia yang kedua, siap untuk diluncurkan.Satelit kedua buatan Indonesia ini bernama LAPAN A2; jauh lebih gres ketimbang pendahulunya satelit LAPAN-Tubsat yang diluncurkan pada tahun 2007 silam.
Berdasarkan keterangan resminya, tahun ini, satelit LAPAN kedua yang bernama LAPAN A2 telah selesai dibangun. Satelit ini siap diluncurkan ke orbit tahun depan dengan menggunakan roket India.
Guna menandakan selesai dibangunnya satelit LAPAN A2, LAPAN akan menyelenggarakan penandatanganan prasasti LAPAN A2 yang dilak. Prasasti ini akan ditandatangani oleh perwakilan Kemenristek, Prof Dr Mulyanto, dengan Kepala LAPAN, Bambang S Tedjakusuma, pada acara penutupan RITech 2012, Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, Sabtu (11/8/2012).
Lapan 2 Indonesia
Satelit LAPAN A2 dirancang dan dibuat sepenuhnya oleh LAPAN. Satelit LAPAN A2 merupakan satelit yang sama dengan satelit LAPAN-Tubsat, namun memiliki sensor yang lebih meningkat dibandingkan satelit pendahulunya.
Misi utama LAPAN A2 adalah untuk mitigasi bencana. Satelit ini memiliki sensor Automatic Identification System (AIS) untuk identifikasi kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati satelit tersebut.
Lapan 2 Indonesia

Sabtu, 11 Agustus 2012

Robot Wall-E Ini Sekarang Hadir di Dunia Nyata

robot wall-e
Masih ingat dengan film Wall E? Robot mungil yang menjadi tokoh utama dalam film besutan Pixar-Disney itu kini dibuat nyata oleh seorang pria. Dari rupa, gerakan, hingga suara dibuat semirip mungkin dengan tokoh di film tersebut.

Pria tersebut bernama Mike Senna, salah satu pembuat robot asal California yang kerap muncul dengan hasil karya memukau. Kali ini ia memamerkan sebuah robot sebagai wujud nyata dari karakter Wall E.

Robot tersebut bisa bergerak, bersuara dan berinteraksi dengan manusia melalui romote control. Namun yang paling keren adalah, semua gerakan dan suara dibuat sedemian rupa hingga mirip sekali dengan Wall-E. Bahkan sisi emosional robot ini pun bisa terlihat dari rupanya.

Meski harus merakitnya dari bagian terkecil, akan tetapi proses pembuat Wall-E tergolong singkat. Senna meluangkan 25 jam setiap minggunya dengan total pengejaran mencapai 6 bulan. Semua ini ia lakukan atas dasar hobi dan menggunakan budget dari kocek pribadinya.

Sabtu (4/8/2012), membuat robot dari karakter animasi bukanlah pertama kali dilakukan oleh Senna, pada 2003 silam pria ini juga sempat membuat sebuah robot tiruan dari karakter R2-D2 dari film Star Wars.

Lalu akankah di dunia nyata ini Wall-E akan dipersatukan dengan Eve? Si robot canggih pujaan hatinya



Selasa, 03 Juli 2012

Detik Kabisat




Detik kabisat.Itulah kosa kata yang mengguncang jagat maya pada Sabtu 30 Juni 2012 lalu. Sebuah detik telah ditambahkan oleh IERSS (International Earth Rotation and Reference System Services) pada tanggal itu sehingga sehari pada 30 Juni 2012 tidak lagi berjumlah 86.400 detik seperti hari–hari sebelumnya, melainkan menjadi 86.401 detik. Konsekuensinya pada setelah pukul 23:59:59 UTC tidak kemudian berubah jadi pukul 00:00:00 UTC, melainkan berlanjut ke pukul 23:59:60. Situasi tersebut hanya berlangsung untuk tanggal 30 Juni 2012 saja, sementara pada tanggal berikutnya, yakni 1 Juli 2012 dan seterusnya, tidak berlaku.


Apakah detik kabisat itu?
Detik kabisat merupakan aplikasi satu detik tambahan yang dilakukan pada saat–saat tertentu, untuk menyinkronkan dua sistem waktu yang kita gunakan pada saat ini. Seperti diketahui, dunia masa kini bergerak dalam dua sistem waktu yang berbeda. Sistem waktu yang pertama adalah waktu astronomi, atau lebih populer dengan sebutan waktu Greenwich. 1 detik dalam waktu astronomik didefinisikan oleh IAU (International Astronomical Union) pada 1960 sebagai satu per 31.556.929,9747 panjang tahun tropik 1900. Dengan sistem waktu ini maka sehari di Bumi didefinisikan sebagai panjang waktu 86.400 detik atau setara 1.440 menit atau setara 24 jam. Sistem waktu ini merupakan warisan sejarah, yang akarnya bisa dilacak sejak peradaban Mesir, Babilonia, India dan Islam secara terpisah, yang didasarkan pada waktu Matahari rata–rata sebagai implikasi dari perputaran Bumi pada porosnya. Meskipun, waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berotasi sekali sebenarnya 23 jam 56 menit 4,0906 detik, atau berselisih 3 menit 55,9094 detik dibanding waktu Matahari rata–rata. Waktu astronomik inilah yang mendefinisikan tahun, bulan, tanggal/hari, jam dan menit dalam kehidupan kita.

Belakangan disadari, penggunaan rotasi Bumi maupun gerak semu tahunan Matahari dari satu titik tropik ke titik tropik berikutnya sebagai acuan waktu memiliki masalah, terutama jika kita membutuhkan ketelitian hingga orde detik. Sebab rotasi Bumi tidak berjalan secara linier dari waktu ke waktu, melainkan amat dipengaruhi sejumlah faktor. Misalnya, gerak menjauh perlahan Bulan terhadap Bumi. Sejak era penerbangan antariksa ke Bulan dimulai, disadari bahwa Bulan menjauh secepat 3,82 cm per tahun terhadap Bumi. Gerak menjauh ini berimplikasi pada banyak hal, salah satunya adalah berubahnya besaran gaya tidal Bulan terhadap Bumi yang mendatangkan konsekuensi melambatnya kecepatan rotasi Bumi. Sehingga periode rotasi Bumi pun melambat 1,4 milidetik dalam setiap 100 tahun. Meski perubahannya amat kecil, namun dalam dunia yang sedang melaju ke era presisi seiring masuknya abad komputer menyebabkan perubahan tersebut sulit ditoleransi.

Banyaknya variabel yang mempengaruhi waktu astronomi membuat kita membutuhkan sistem waktu yang lebih stabil dengan variabel yang lebih sedikit. Inilah yang mendorong diwujudkannya sistem waktu yang kedua, yakni sistem waktu atomik. Sistem waktu ini mulai diusulkan pada 1960 seiring mulai beroperasinya jam atom Cesium–133. 1 detik dalam waktu atomik didefinisikan oleh ICWM (International Committee for Weights and Measurements) sebagai waktu yang dibutuhkan cahaya merah–jingga untuk bergetar 9.192.630.771 kali sebagai akibat eksitasi isotop Cesium–133. Eksitasi adalah transisi elektron dalam sebuah atom dari tingkat energi lebih tinggi ke tingkat energi lebih rendah yang diikuti oleh pancaran foton (cahaya) dengan energi sebanding. Definisi ini setara dengan 1 detik waktu astronomik yang dirata–ratakan dari tahun 1750 hingga 1892, dengan tingkat ketelitian 1 bagian dalam 10 milyar. Terbentuknya sistem waktu atomik menginspirasi munculnya waktu universal terkoordinasi atau UTC (Universal Time Coordinated) yang dibentuk sejak 1961.

Meski UTC terbentuk, namun waktu universal sebelumnya yakni UT1 atau dulu dikenal sebagai GMT (Greenwich Mean Time) disepakati untuk tetap dipertahankan sampai kurun waktu yang belum dibatasi. Konsekuensinya sejak 1961 kinerja jam atom selalu disinkronisasikan dengan rotasi Bumi. Sehingga dalam sepuluh tahun kemudian, kinerja jam atom telah diperlambat 10 detik. Ini menyulitkan dan dipandang akan lebih mudah jika yang dilakukan adalah sebaliknya, yakni menambahkan satu detik pada saat–saat tertentu untuk UT1.

Penambahan ini melahirkan konsep detik kabisat, yang analog dengan tahun kabisat. Jika pada tahun kabisat yang ditambah adalah jumlah harinya (dengan memunculkan konsep tanggal 29 Februari), maka pada detik kabisat yang ditambah adalah jumlah detik dalam satu hari pada satu tanggal tertentu yang sudah ada, dari yang semula berjumlah 86.400 detik menjadi 86.401 detik. Disepakati pula penambahan tersebut hanya bisa dilakukan pada tanggal 30 Juni atau 31 Desember. Penambahan detik kabisat ini diperlukan agar selisih antara UTC dengan UT1 tidak pernah melampaui 0,9 detik. Aplikasinya, tiap kali nilai selisih UTC dengan UT1 mencapai 0,6 detik, detik kabisat pun ditambahkan. Detik kabisat juga hanya berlaku sekali secara simultan. Dalam kasus 30 Juni 2012 misalnya, jika waktu UTC menunjukkan jam 23:59:59 yang kemudian berlanjut ke 23:59:60, maka di Indonesia hal tersebut terjadi pada 1 Juli 2012 pukul 06:59:59 WIB yang kemudian berlanjut ke pukul 06:59:60 WIB.

Dengan kesepakatan ini, maka di dunia terkini hanya ada waktu UTC yang sedikit berbeda dibanding konsep UTC sebelum 1971 karena faktor detik kabisat. Kesepakatan 1972 itu sekaligus menghapuskan dualisme waktu astronomik dan atomik. Inilah sistem waktu tunggal yang digunakan di seluruh penjuru Bumi hingga kini dan menyusup ke berbagai bidang, mulai dari dunia pertanian hingga dunia teknologi informasi.
Seiring berlakunya kesepakatan tersebut, waktu yang ditunjukkan jam atom kemudian diklasifikasikan sebagai waktu TDT (Terestrial Dynamical Time). Selisih antara TDT dengan UTC dikenal sebagai ?T dalam dunia astronomi. Pada 1972, nilai ?T adalah 10 detik, namun kini telah berubah menjadi 35 detik seiring terjadinya 25 detik kabisat sejak 1972 hingga 2012. Sebelum 2012, penambahan detik kabisat berlangsung pada 1972 (30 Juni dan 31 Desember), 1973–1979 (31 Desember), 1981–1983 dan 1985 (30 Juni), 1987 dan 1989–1990 (31 Desember), 1992–1994 (30 Juni), 1995 (31 Desember), 1997 (30 Juni), 1998 dan 2005 (31 Desember) serta 2008 (30 Juni).

Implikasi

Seperti halnya tahun kabisat, konsep detik kabisat juga melahirkan beberapa masalah dalam dunia terkini. Jika eksistensi tanggal 29 Februari yang hanya berlangsung sekali dalam 4 tahun itu menyebabkan konflik dalam dunia komputer dan aplikasinya seperti dalam sejumlah sistem teknologi informasi dalam dunia asuransi dan perbankan, pun demikian dengan konsep detik kabisat.

Detik kabisat lebih rumit dibanding tahun kabisat, terutama karena waktunya yang tak bisa diprediksi dan tidak menampakkan jejak keteraturan. Jiga tahun kabisat selalu terjadi pada angka tahun yang habis dibagi 4 dan angka tahun abad yang habis dibagi 400, tidak demikian dengan detik kabisat. Jika dirata–ratakan dalam 30 tahun terakhir ini detik kabisat ditambahkan setiap 19 bulan sekali, namun dalam praktiknya tidak linier karena bersifat menggerombol (clustering).

Situasi ini menyulitkan dalam dunia teknologi informasi, apalagi di masa kini yang telah mengglobal. Kini jam dalam masing–masing komputer yang telah terkoneksi internet sudah tersinkronisasi dengan UTC, baik secara manual maupun otomatis khususnya dengan NTP (Network Time Protocol). Sementara banyak aplikasi yang tidak mengantisipasi kemungkinan detik kabisat. Karena itu ketika detik kabisat terjadi, aplikasi tersebut pun macet (crash) dan mengalami gangguan. Dalam detik kabisat 30 Juni 2012 misalnya, beberapa server yang melayani laman (situs) populer seperti Reddit, LinkedIn, Mozilla, Pirate Bay dan sebagainya mengalami masalah tersebut.

Karena itu muncul usulan untuk menghapus konsep detik kabisat, yang bergaung sejak 2005. Per Januari 2012 keputusan soal jadi tidaknya penghapusan detik kabisat ditangguhkan oleh ITU (International Telecomunation Union), badan PBB yang mengurusi masalah telekomunikasi global. Saat itu posisi dunia terhadap penghapusan detik kabisat terbagi ke dalam tiga kubu. Kubu yang mendukung terdiri dari AS, Perancis, Italia, Jepang dan Meksiko. Sementara kubu penolak terdiri dari Cina, Canada, Jerman dan Inggris Raya. Kubu ketiga adalah kubu netral namun menghendaki penelitian lebih lanjut, yang dimotori Rusia dengan dukungan Nigeria dan Turki. Status detik kabisat rencananya akan dibahas kembali dalam World Radio Conference tahun 2015.

Jumat, 22 Juni 2012

Dengan Rp1,5 Miliar Anda sudah Bisa ke Bulan


Berlibur ke luar angkasa? Wah, siapa yang menolak. Kini hanya dengan 100 juta pounds atau sekitar Rp1,5 miliar Anda sudah bisa mewujudkannya.

Salah satu perusahaan Inggris menawarkan liburan sekaligus berpetualang dalam suatu perjalanan ke Bulan. Perjalanan sejauh 500 ribu mil ini direncanakan dapat tersedia pada awal 2015.

Excalibur Almaz yang berbasis di Isle of Man mengumumkan tiket pariwisata luar angkasa ini akan memakan biaya 100 juta pounds atau Rp1,5 miliar. Jika rencana ini berhasil, Excalibur Almaz akan menjadi perusahaan ruang angkasa swasta Inggris yang pertama yang akan melakukan misi berawak ke Bulan sejak Apollo 17 pada 1972.

Perjalanan untuk tiga orang ini akan terbang ke Bulan, mengorbit di permukaan Bulan, dan kembali dengan selamat ke Bumi. Sebelumnya, Excalibur Almaz telah mengakuisisi dua stasiun ruang angkasa Soviet yang dirancang untuk operasi mata-mata orbital. Sebanyak empat kapsul RRVs akan mengangkut tiga orang sekaligus ke stasiun ruang angkasa untuk mengorbit dan mengembalikan mereka ke Bumi.

Sebagian besar proses sebenarnya akan dikendalikan komputer. Sebelumnya pun, akan diperlukan beberapa pelatihan untuk pengunjung yang disediakan dalam paket.

Kala berbicara di untuk Royal Aeronautical Society di London, Art Dula, pendiri dan kepala eksekutif perusahaan antariksa AS, menguraikan rencana ambisiusnya tersebut. Dula menekankan bahwa misi ke Bulan jauh melampaui 'pariwisata luar angkasa' yang ditawarkan oleh Sir Richard Branson melalui Virgin Galactic.

"Perjalanan ini lebih berupa 'ekspedisi pribadi' daripada tur wisata. Excalibur Almaz bersedia dan mampu untuk mengirimkan misi berawak ke luar angkasa lebih menarik daripada tawaran yang telah ada selama ini," kata Dula.

Pihak pemasar pun memperkirakan sekitar 30 pariwisata ke Bulan akan tersedia antara 2012 dan 2025.

Jumat, 27 April 2012

DSLR Khusus untuk Penggemar Fotografi Astronomi


Canon menghadirkan kamera DSLR varian terbaru 60D, yaitu Canon EOS 60Da. Kamera ini ditujukan khusus bagi para pecinta fotografi bintang atau objek astronomi.

Sebelumnya Canon juga pernah merilis generasi kamera khusus astronomi serupa pada tahun 2005 lalu dengan mengadopsi teknologi kamera DSLR Canon 20D. Dan kali ini Canon hadir dengan mengadopsi kamera Canon EOS 60D yang hadir dengan layar putar berukuran 3-inci dan sensor CMOS beresolusi 18 megapixel.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons