Tampilkan postingan dengan label e-Learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label e-Learning. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2012

Memahami Interior dan Atmosfer Bulan


Kala Presiden John F. Kennedy menggemakan seruan “We choose to go to the moon in this decade and do the other things. Not because they are easy, but because they are hard…” dalam pidatonya yang legendaris di Rice University, Houston, Texas (AS) tepat setengah abad silam, segera badan antariksa AS (NASA) yang baru berusia seumur jagung dibuat sibuk. Selain harus menyiapkan roket berat yang sanggup mendorong wahana antariksa khusus guna mendarat di Bulan dan membawa pulang kembali penumpangnya ke Bumi dengan selamat, mereka juga musti memikirkan mau berbuat apa di Bulan. Meski telah dikenal sejak awal mula peradaban manusia, hingga setengah abad silam Bulan adalah virgin territory, kawasan yang sama sekali tak dikenal karakteristiknya. Status Bulan pada saat itu sama dengan wilayah Antartika sebelum abad ke-20. Maka meski lebih berat sisi politisnya, misi pendaratan manusia di Bulan juga dibebani sisi ilmiah guna mengenali Bulan dalam perspektif geologi, meteorologi dan geofisika yang mewujud pada upaya pemetaan permukaan (topografi) hingga resolusi tertentu, memahami interior (bagian dalam) Bulan, memahami dinamika jarak Bumi-Bulan, mengenali karakteristik emisi gas dari permukaan Bulan, mengenali interaksi Bulan dengan radiasi angin Matahari dan magnetosfer Bumi serta aspek-aspek terkait lainnya.
Dengan tujuan demikian, misi pendaratan manusia di Bulan yang mewujud sebagai program Apollo bukanlah misi antariksa yang berdiri sendiri, melainkan sepaket dengan misi antariksa tak berawak seperti program Surveyor. Dengan begitu program Apollo tidak hanya mengangkut kamera saja, namun juga membawa serta beragam instrumen ilmiah yang bakal menghasilkan beragam data non-fotografis. Sebagian dari instrumen tersebut ditempatkan permanen di Bulan dengan data yang dihasilkan ditransmisikan secara teratur ke Bumi guna dianalisis. Data-data non-fotografis tersebut memang menyajikan impresi yang jauh berbeda dibanding foto-foto tiap misi Apollo, karena umumnya hanya berbentuk serangkaian kurva, grafik maupun peta dengan resolusi lebih rendah. Namun data-data ini dapat menyajikan informasi penting yang kerap tak tertangkap kamera maupun mata manusia, yang memungkinkan kita kita memahami Bulan secara komprehensif. Dalam kehidupan keseharian kita, kedudukan data fotografis dan non-fotografis ini bisa disejajarkan dengan selembar foto beserta data-data spesifik seperti rekam gigi, sidik jari, sidik iris (mata), rekam medis maupun genetis (DNA) yang dapat menyajikan identifikasi personal berketelitian tinggi dalam ranah hukum.
Gambar 1. Seismometer dan magnetometer sedang dipasang di permukaan Bulan, misi Apollo 11. Sumber : NASA, 1969.
Gambar 1.
Seismometer dan magnetometer sedang dipasang di permukaan Bulan, misi Apollo 11.
Sumber : NASA, 1969.
Program Apollo mewujud dalam enam misi pendaratan manusia di Bulan sejak Juli 1969 hingga Desember 1972, yakni dalam misi Apollo 11 hingga 17 kecuali Apollo 13 yang gagal mendarat karena masalah teknis amat serius. Setiap misi mendaratkan 2 astronot, sehingga secara keseluruhan terdapat 12 manusia yang pernah menapakkan kakinya di Bulan. Mereka bertugas mengumpulkan sejumlah sampel batu dan tanah Bulan, melaksanakan beragam eksperimen dan memasang instrumen ilmiah permanen.
Interior Bulan
Pengetahuan kita akan interior Bulan disumbangkan oleh sejumlah instrumen seperti seismometer, magnetometer, cermin retroreflektor dan pengukur aliran panas permukaan Bulan serta berbagai eksperimen khusus seperti eksperimen mekanika tanah Bulan, seismik aktif (seismik refleksi) dan uji konduktivitas listrik batuan Bulan.
Seismometer adalah perekam gelombang gempa (seismik), sementara magnetometer bertugas merekam medan magnet. Cermin retroreflektor adalah cermin khusus yang dirancang guna memantulkan kembali seberkas cahaya yang mengenainya ke posisi sumber cahayanya. Dan pengukur aliran panas permukaan Bulan adalah instrumen yang dilengkapi sejumlah termometer guna mengukur gradien suhu lapisan-lapisan tanah Bulan. Eksperimen mekanika tanah Bulan dilaksanakan dengan menggunakan bor tangan guna menguji kekerasan, ukuran hablur (butiran tanah) Bulan dan sifat fisisnya. Sementara eksperimen seismik aktif dilaksanakan dengan meledakkan sejumlah dinamit/bahan peledak pada titik-titik tertentu sehingga memproduksi gelombang seismik buatan yang merambat melalui lapisan-lapisan batuan Bulan untuk kemudian diterima serangkaian geofon. Dan uji konduktivitas listrik dilakukan dengan transmitter yang diletakkan berjarak terhadap receiver. Posisi transmitter dan receiver kemudian digeser secara periodik dengan menggunakan mobil Bulan (Lunar Rover). Kecuali cermin retroreflektor, penempatan dan pengoperasian semua instrumen itu serta pelaksanaan semua eksperimennya tidak bila dilakukan tanpa campur tangan langsung manusia.
Interior Bulan secara umum terbagi menjadi tiga lapisan: kerak, selubung (mantel) dan inti Bulan. Kerak Bulan cukup tebal, dengan ketebalan antara 60 hingga 70 km atau rata-rata 3 kali lipat lebih tebal dibanding kerak Bumi. Kerak Bulan didominasi batuan beku basaltik yang bersifat basa, dimana hingga kedalaman tertentu (1,4 km pada lokasi pendaratan Apollo 17) mengalami peretakan dan/atau terbreksiasi sangat intensif akibat hantaman komet/asteroid yang berulang-ulang sepanjang sejarah geologi Bulan. Hantaman yang sama juga membuat permukaan Bulan diliputi debu tebal (regolith) yang sangat halus (diameter < 0,1 mm), sangat kering dan bermuatan listrik statis sehingga mampu melekat kuat pada baju astronot atau peralatan lainnya. Hingga kedalaman 2 km batuan Bulan bersifat amat kering dan tidak mengandung air.
Gambar 2. Contoh rekaman seismogram gempa bulan (atas) dan perbandingannya dengan rekaman gempa bumi (bawah). Nampak perbedaan karakteristik gelombang dan durasi, meski kekuatan gempanya nyaris sama. Sumber : NASA, 1970 dan USGS, 2012.
Gambar 2.
Contoh rekaman seismogram gempa bulan (atas) dan perbandingannya dengan rekaman gempa bumi (bawah). Nampak perbedaan karakteristik gelombang dan durasi, meski kekuatan gempanya nyaris sama.
Sumber : NASA, 1970 dan USGS, 2012.
Berbeda dengan Bumi, kerak Bulan tidak memiliki sistem lempeng tektonik. Hal ini disebabkan oleh telah memadatnya lapisan selubung (mantel) Bulan sehingga tidak memungkinkan adanya sirkulasi arus konveksi. Karena itu amat jarang terjadi gempa bulan yang hiposentrumnya dangkal maupun menengah. Hampir seluruh gempa bulan bersumber pada kedalaman 800 hingga 1.000 km. Eksperimen electromagnetic soundingmenggunakan magnetometer memastikan interior Bulan bersifat cair pada kedalaman 800 hingga 1.500 km. Fakta ini memastikan gempa-gempa bulan dihasilkan oleh dinamika interior Bulan yang cair yang terletak di zona transisi selubung dan inti Bulan. Dinamika tersebut dipengaruhi gaya tidal Bumi. Dengan bagian yang cair terletak amat dalam dari permukaan, Bulan secara geologis sudah mati. Tak ada lagi jejak aktivitas vulkanisme dan/atau tektonisme di kerak Bulan pada masa kini. Hal ini didukung oleh kecilnya nilai aliran panas permukaan Bulan, yang hanya sebesar (rata-rata) 21 miliwatt per meter persegi (18-24 % aliran panas permukaan Bumi). Data seismik juga tidak mengindikasikan adanya titik-titik hiposentrum yang rapat pada beragam kedalaman, yang umum dijumpai pada saluran magma di Bumi. Dengan vulkanisme dan tektonisme yang sudah mati, maka energi seismik tahunan yang dilepaskan Bulan hanyalah 1/10 juta energi seismik tahunan Bumi.
Di bawah lapisan selubung terdapat inti Bulan yang berdiameter 350 km. Pola rotasinya sama dengan pola rotasi keseluruhan bagian Bulan. Didukung lambatnya periode rotasi Bulan, maka Bulan tidak bisa membentuk medan magnet intrinsik seperti halnya Bumi, sehingga tidak ada kutub-kutub magnet di Bulan pada saat ini. Namun di masa silam Bulan pernah memiliki medan magnet, khususnya di masa muda tata surya. Sisa-sisa medan magnet Bulan ini masih terserak dalam berbagai titik yang terlokalisir dengan kekuatan amat lemah.
Atmosfer Bulan
Kita mengenal Bulan sebagai kawasan hampa udara, namun sebenarnya tidak sepenuhnya demikian. Misi Apollo juga mendaratkan beberapa instrumen guna menganalisis ruang di permukaan Bulan, misalnya instrumen tabung katoda dingin dan pengukur angin Matahari.
Bulan ternyata memiliki atmosfer, meski amat sangat tipis sehingga tekanan udaranya pun sangat rendah. Tiap meter persegi permukaan Bulan mengandung 2 milyar molekul udara dengan kerapatan hanya 1/100 trilyun atmosfer Bumi. Massa total atmosfer Bulan hanyalah 10 ton, sehingga tiap kali terjadi misi pendaratan manusia di Bulan menyebabkan gangguan amat signifikan. Sehingga penyelidikan atmosfer hanya bisa berlangsung efektif jauh hari setelah manusia meninggalkan permukaan Bulan. Atmosfer Bulan hanya ada pada malam hari. Di siang hari, dominasi partikel-partikel angin Matahari yang berkecepatan tinggi menyebabkan molekul-molekul udara Bulan tertendang ke antariksa.
Gambar 3.
Memasang pengukur aliran panas permukaan Bulan, misi Apollo 15.
Sumber : NASA, 1971.
Angin Matahari adalah partikel-partikel energetik yang dihembuskan Matahari ke segenap penjuru secara kontinu, dengan 95 % diantara berupa proton dan elektron. Sisanya adalah ion positif dari isotop Helium-3, Helium-4, Neon-20, Neon-21, Neon-22 dan Argon-36. Jumlah proton Matahari yang diterima Bulan amat bergantung posisi Bulan terhadap Bumi dan magnetosfer Bumi. Dari 27 hari periode revolusi Bulan, 18 hari diantaranya menempatkan Bulan berada di luar magnetosfer Bumi. Pada saat itu proton Matahari yang diterima permukaan Bulan dalam tiap meter kubiknya Bulan mencapai 100 ribu hingga 200 ribu butir yang melejit dengan kecepatan bervariasi antara 450 hingga 650 m/detik. Sementara dalam 5 hari kemudian Bulan melintas dalam magnetosfer Bumi sehingga tak satupun proton Matahari terdeteksi. Dan pada 4 hari sisanya, Bulan melintas di batas magnetosfer Bumi sehingga proton Matahari mampu menjangkau permukaan Bulan namun pada kecepatan jauh lebih rendah.
Pengetahuan akan interior dan atmosfer Bulan merupakan sekeping dari warisan program pendaratan manusia di Bulan. data-data non fotografis yang demikian berlimpah membuat kita berlipat-lipat kali lebih memahami Bulan pasca program Apollo dibandingkan dengan era sebelumnya, bahkan sejak era peradaban manusia bermula. Dengan data yang demikian berlimpah dan hingga kini tak satupun kalangan ilmuwan terkait yang mempersoalkan kesahihannya (validitasnya) mengingat ciri-cirinya yang spesifik, maka agak menggelikan juga menyaksikan sekelompok manusia yang mencoba membantah terjadinya pendaratan manusia di Bulan dan menganggapnya sebagai konspirasi belaka, apalagi hanya ditunjang interpretasi fotografis sepihak. Di sisi lain penempatan instrumen-instrumen geofisika mengguratkan garis batas tebal yang memisahkan kisah sukses manusia dalam hal eksplorasi Bulan dan Mars. Di Mars, meski eksplorasi telah berlangsung sejak 1970-an hingga kini dan terakhir ditandai pendaratan robot penjelajah Curiosity (misi Mars Science Laboratory), namun tiadanya pendaratan manusia menyebabkan pencapaian kita di Mars tidaklah sebaik Bulan. Misalnya saja, sampai detik ini kita belum pernah berhasil mengebor tanah Mars hingga sedalam lebih dari 0,5 m. Sampai detik ini juga kita belum berhasil menempatkan seismometer guna mendeteksi gempa-gempa mars ataupun mengukur aliran panas permukaannya guna memastikan status tektonik dan vulkaniknya. Dan seperti apa persisnya interior Mars pun, hingga kini kita belum bisa memastikannya, kecuali hanya menerka-nerka lewat data-data satelit. Bahkan guna memastikan apakah tanah Mars benar-benar mengandung air ataupun tidak, sampai kini kita hanya mendeduksinya secara tak langsung.

Minggu, 16 September 2012

Nebula Cincin

Sebuah nebula planet dengan simetri sederhana yang akrab bagi pengamat teleskopik langit – yaitu Nebula Cincin (M57) berada sekitar 2,000 tahun cahaya jauhnya dari konstelasi musikal Lyra. Petunjuk akan perubahan warna dan detail halusnya ditampilkan dalam sketsa luar biasa dari cincin kosmik ini. Sketsa tersebut dibuat dengan pembesaran sebanyak 800x dan berasal dari penglihatan langsung yang sempurna dari mata lensa teleskop cermin 40 inci. Pensil berwarna di atas kertas putih digunakan untuk membuat gambar asli, terlihat disini dipindai digital dengan pemakaian inverted palette. Melintang sekitar satu tahun cahaya, nebula ini terdiri dari lapisan-lapisan luar hasil buangan bintang sekarat yang dahulunya-seperti-matahari . Cahaya ultraviolet intens dari pusat bintang yang panas mengionisai atom dalam gas dan mendayai cahaya nebula. Hidrogen terionisasi menambah rona kemerahan. Oksigen terionisasi menghasilkan warna karakteristik hijau kebiruan. Sulit untuk terlihat dengan kondisi dibawah rata-rata dengan teleskop kecil, pusat bintang Cincin Nebula ini dapat terlihat setiap saat selama studi artis.


10 Fakta Menarik Tentang Komet Elenin


Salah satu berita yang sangat menghebohkan tahun 2011 adalah penemuan Komet Elenin (C/2010 X1).Untuk berbagai alasan, orang mulai berpikir komet ini bakal menimbulkan ancaman bagi Bumi. Banyak Artikel menulis tentang komet fenomenal Elenin.

Orang-orang penasaran dengan komet dan posisinya yang mendekati Bumi pada Oktober, 2011. Beberapa memprediksi Komet Elenin adalah tanda bahwa ramalan kiamat suku Maya memang akan terjadi.

Menanggapi kekhawatiran ini, NASA dipaksa untuk memberikan pernyataan2. Mereka mengatakan komet ini dimungkinkan tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi. Berikut adalah sepuluh fakta menarik tentang Comet Elenin.


10. Apakah Komet itu

Dalam sejarah kuno, komet secara tradisional dianggap sebagai pertanda buruk. Komet adalah Sistem tubuh kecil Solar (SSSB) yang akan menampilkan koma terlihat (Atmosphere tipis, berdebu, dan bersifat temporer) ketika dekat dengan Matahari.

Perbedaan utama antara asteroid dan komet adalah bahwa komet menunjukkan ekor. Asteroid juga diperkirakan memiliki asal yang berbeda dari komet, yang terbentuk di dalam orbit Jupiter bukan di luar Tata Surya.Hal ini memberikan sejarah orbit komet lebih penting.Ekor dari komet terbentuk ketika melintas dekat Matahari.Ekor ini umumnya terbuat dari es dan debu, dan dapat tumbuh menjadi sangat besar.

Pada Oktober 2007, komet 17P/Holmes dengan cepat memiliki atmosfer debu yang lebih besar dari Matahari. Diperkirakan bahwa komet ini bisa ditemukan setiap tahun yang dapat dilihat oleh mata manusia. Dalam beberapa kasus langka, Komet Besar dapat lebih terang daripada bintang di langit. Diperkirakan bahwa satu Komet Besar akan muncul setiap dekade.

Persyaratan untuk Komet Besar mencakup inti yang besar dan aktif, pendekatan yang dekat dengan Matahari, dan pendekatan yang dekat dengan Bumi. Pada tahun 1996, Komet Hyakutake, yang memiliki inti berukuran sama seperti Komet Elenin, melakukan pendekatan yang sangat dekat dengan Bumi.

Pesawat ruang angkasa Ulysses melintasi ekor Hyakutake di jarak lebih dari 500 juta kilometer (3,3 AU atau 3 × 108 mil) dari inti, menunjukkan bahwa Hyakutake memiliki ekor terpanjang daripada komet yang pernah ditemukan sebelumnya.


9. Penemuan Komet Elenin

Pada tanggal 10 Desember 2010, seorang astronom amatir bernama Rusia Leonid Elenin menemukan sebuah komet periode panjang di negara bagian New Mexico.
Obyek yang dekat dengan bumi diberi nama Elenin dan diperkirakan berdiameter 3-4 km . Segera setelah penemuan itu diumumkan, artikel mulai muncul di Internet yang mengklaim komet itu berbahaya bagi Bumi. Orang-orang mulai membuat hubungan antara Elenin dan peristiwa kiamat.

Pada awalnya memperkirakan bahwa komet akan lewat dalam .24 Au (Astronomical Unit) dari Bumi,ini posisi yang cukup dekat.
Jaraknya lebih dekat daripada komet Hale-Bopp tahun 1997, yang mendapat perhatian lebih media.

Berita ini mencapai audiens yang lebih besar setelah itu mengungkapkan bahwa ketika menggunakan sistem JPL Horizons dengan busur orbital yang diamati dari 235 hari, komet menunjukkan periode orbit sekitar 11.800 tahun. Dalam sejarah Bumi, 12.000 tahun yang lalu adalah waktu perpindahan antara zaman Pleistosen dan zaman Geologi Holosen.


8. Kemiripan Komet Elenin dengan Film Deep Impact

Salah satu alasan Komet Elenin telah menerima begitu banyak perhatian adalah bahwa komet ini memiliki kemiripan dengan Dampak film Deep Impact (1998).

Sebagai permulaan, dalam film, komet ditemukan oleh seorang anak remaja bernama Leo dan disebut sebagai Elle (tingkat kepunahan ).Pada kenyataannya,komet ditemukan oleh seorang astronom muda Rusia, Leonid Elenin, yang lahir pada tahun 1981 . Adalah suatu kebetulan bahwa seorang pria bernama Elenin menemukan komet dekat-bumi.
Setelah penemuan itu diumumkan, artikel mulai muncul di internet dengan akronim untuk ELENIN, termasuk peristiwa kepunahan, dampak dekat atau kepunahan tingkat sembilan (menunjukkan 9 dari 10 pada skala bahaya atau akhir dari gelombang kesembilan dari kalender Maya).

Beberapa mengatakan 11/9, seperti pada tanggal 9 November ketika ekor puing Elenin diperkirakan paling dekat ke Bumi. Dalam Deep Impact, presiden AS berkulit hitam memutuskan untuk mengirim misi untuk meledakkan komet dengan senjata nuklir.Misi ini berhasil dan komet dipisahkan menjadi beberapa bagian. Namun, sepotong komet masih menghantam Bumi.

Setelah komet menghantam, Presiden menyatakan darurat militer, dan mengungkapkan bahwa pemerintah telah membangun tempat penampungan bawah tanah. Di akhir film, kepunahan manusia terhindar setelah komet yang lebih besar diledakkan.


7. Prediksi Ramalan Kehancuran Bumi
Sejak Komet Elenin ditemukan, NASA bersikeras pada fakta bahwa komet tidak akan cukup dekat untuk menyerang atau membahayakan Bumi dengan cara apapun.Orang-orang menanggapi dengan menggunakan koleksi skenario hipotetis untuk bencana.
Misalnya, jika Elenin akan menabrak sebuah asteroid saat melewati Sabuk Asteroid Utama,pecahan komet / asteroid bisa saja terlempar dari lintasan dan diperkirakan akan emndorong ke arah Bumi. Orang-orang mulai takut efek dari kehadiran komet.
Pada bulan Agustus, 2011, Ekor Elenin yang melebihi 200.000 km. Diperkirakan bahwa pada tanggal 6 November 2011, Bumi akan melewati ekor puing-puing komet.
Orang-orang mulai membuat sambungan antara komet dan keselarasan dengan bumi, matahari, dan bulan.

Beberapa merasa bahwa tarikan gravitasi Elenin disebabkan koleksi gempa bumi dan peristiwa geologi.

Cerita ini mencapai tingkat baru popularitas setelah gempa bumi 11 Maret Tohoku dan tsunami karena beberapa situs telah menyatakan tanggal 15 Maret 2011 sebagai event keselarasan.

Komet Elenin diperkirakan paling dekat ke Bumi pada 16 Oktober 2011 dan ekor tiba pada awal November.


6. Ramalan Kuno Tentang Bintang Biru
Pada awal Agustus tahun 2011, NASA memutuskan untuk mendapatkan gambaran dari komet Elenin, sehingga mereka memutar pesawat ruang angkasa STEREO-B dan memfoto komet ini. Dalam gambar, komet tampaknya menjadi biru.Warnanya telah menyebabkan orang untuk membuat perbandingan antara objek dengan ramalan bangsa indian kuno Hopi tentang bintang biru.

Legenda Ramalan Menyatakan, "Ketika Bintang biru Kachina muncul di langit, Dunia Kelima akan muncul." Suku Maya juga memiliki cerita dari sebuah bintang biru berbahaya.
Warna Elenin telah menyebabkan Richard Hoagland C untuk menyarankan itu adalah Hopi Blue Star, klaim yang telah melahirkan sejumlah artikel.

Seorang pria bernama Carl Johan Calleman, yang adalah seorang ahli toksikologi Swedia yang mengkhususkan diri dalam sejarah Maya, juga mengklaim bahwa Comet Elenin adalah bintang biru yang pernah muncul dalam sejarah kuno. Calleman memegang interpretasi yang berbeda dari Kalender Maya bersama-sama.

Dia mengatakan bahwa kalender menunjuk tanggal 28 Oktober 2011 (tidak 21 Desember 2012) sebagai yang paling penting, hari ketika orang akan mengalami transformasi lambat kesadaran dan mencapai persatuan yang lebih tinggi.

Sebelum penemuan Elenin, Calleman mengidentifikasikan pada saat komet melewati bumi (akhir Oktober, 2011) sebagai waktu kritis.


5. 45P/Honda-Mrkos-Pajdušáková 
45P/Honda-Mrkos-Pajdušáková adalah sebuah komet periode pendek ditemukan pada 1948.

Komet ini memiliki orbit elips dalam 5,26 tahun dan inti diperkirakan berdiameter 0,5-1,6 kilometer .
Pada tanggal 15 Agustus 2011, Honda melakukan pendekatan dekat hanya 0,0600 AU (8.980.000 km) ke Bumi. Pada tanggal 19 Agustus hari yang sama Komet Elenin dihancurkan oleh sebuah coronal mass ejection, Honda dipelajari oleh Jaringan Antariksa Goldstone Deep. Jaringan terdeteksi gema dari inti Honda dan menjadi hanya komet kelima belas dalam sejarah yang dideteksi oleh radar.
Setelah penemuan Komet Elenin dipublikasikan, orang mulai memeriksa lintasan komet dalam hubungannya dengan komet Honda.
Ternyata bahwa dua benda akan datang relatif dekat dengan bertabrakan pada tangga l 28/29 tahun 2011.
Untuk alasan ini, orang mulai takut pada tanggal ini yang memprediksi akan terjadi gempa bumi dan bencana akhir bulan September.
Artikel ditulis bahwa hipotesis pergeseran jalur Elenin yang bisa mendorong ke Honda.255P/Levy merupakan komet yang disebut dengan Elenin. Levy datang dalam 0,2359 AU (35.290.000 km) dari Bumi pada tanggal 26 Januari 2012.


4. 2005 YU55
Meteor akan dihasilkan ketika puing-puing angkasa masuk dan terbakar di atmosfer bumi. Beberapa astronom telah melaporkan bahwa kawanan meteor berhubungan erat dengan orbit komet yang dikenal.

Hujan meteor tidak mengancam Bumi karena ekor komet biasanya tidak membawa benda besar.

Pada tanggal 28 Desember 2005, sebuah asteroid yang berpotensi berbahaya ditemukan oleh Robert S. McMillan dan bernama 2005 YU55. BEnda Ini berdiameter 400 m dan pernah menyebabkan kekhawatiran NASA.

Pada tanggal 8 November 2011, YU55 melintasi bumi pada jarak bulan (324.900 kilometer). Ini adalah jarak bumi terdekat dengan asteroid besar sejak tahun 1976.
BEnda lain yang seukuran tidak diprediksi untuk mendekat ke Bumi ini hingga 2028.
Setelah Comet Elenin mulai mendapatkan perhatian, orang mulai menghubungkannya dengan 2005 YU55 karena tanggal November 9, 2011 (11/9/11). Pada tanggal ini, ekor Elenin diperkirakan paling dekat ke bumi, bersama dengan posisi 2005 YU55 yang juga dekat.

Hal ini menyebabkan beberapa orang untuk berspekulasi bahwa tabrakan antara dua objek itu mungkin terjadi.


3. Signifikasi Umum
Setelah Komet Elenin ditemukan, banyak orang berharap berita ini untuk disebutkan dalam arus utama media AS, tapi tidak. Hal ini menyebabkan beberapa untuk mencurigai bahwa NASA menyimpan rahasia.

Makna umum dari komet Elenin itu besar. Di Amerika Serikat, NASA memiliki mandat kongres ke katalog semua benda dekat Bumi yang setidaknya memiliki lebar 1 kilometer . Dampak dari suatu objek akan menjadi bencana besar ke Bumi. Studi menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Cina adalah daerah yang paling rentan terhadap serangan meteor. Aturan umum adalah bahwa Neos memiliki jarak Apsis kurang dari 1,3 AU. Pada Mei 2012, Neos 8971 telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, hanya 91 komet dan 8.880 Asteroid mendekati bumi.

Hal ini membuat penemuan Komet Elenin langka. Lebih langka adalah bagaimana sisa-sisa komet tiba di Bumi pada 16 Oktober 2011. Ini melewati pada jarak 0,2338 AU, yang sangat dekat dibandingkan dengan komet lainnya .
Sejumlah asteroid yang lebih kecil telah melakukan pendekatan lebih dekat. Salah satu pentingnya adalah asteroid 2010 AL30, yang melintasi bumi pada 13 Januari 2010 di jarak 122.000 km .

AL30 hanya berdiameter 10-15 m, tetapi jika asteroid telah memasuki atmosfer bumi, akan menciptakan ledakan di udara setara dengan 50 - 100 kT (kiloton TNT). (Bom atom di Hiroshima "Little Boy" memiliki daya ledak 13-18 kT). Ini menunjukkan betapa pentingnya untuk mengawasi komet dari berbagai ukuran yang mendekati atmosfer bumi.


2. Kehancuran Komet Elenin 
Pada bulan Agustus, 2011, visibilitas Comet Elenin sekitar 8.3.Komet itu menyusul prediksi NASA sampai 19 Agustus, 2011 ketika dihancurkan oleh sebuah coronal mass ejection (CME). coronal mass ejection (CME) adalah hembusan dari ledakan besar matahari. Pada kesempatan tersebut, Comet Elenin hancur dan pecah.

Menurut pejabat NASA, kejadian ini sangat langka dan hanya 2% dari komet baru yang mendekati matahari dihancurkan dengan cara ini. Pada pertengahan Oktober 2011, Komet Elenin dalam posisi terdekatnya dengan Bumi, tapi saat itu komet sudah menjadi kerikil dan debu. Objek tidak terlihat bahkan oleh teleskop darat.

Dengan semua kontroversi seputar Elenin, kehancuran yang tidak biasa dari komet telah menyebabkan citra abadi.
Pada minggu sebelum coronal mass ejection, artikel yang diposting online yang disarankan Badan Antariksa Eropa punya rencana untuk menghancurkan sebuah asteroid menuju Bumi.
Secara khusus, website Daily Mail memposting sebuah artikel berjudul Fakta mengikuti fiksi? Para ilmuwan berencana melakukan misi meledakkan asteroid yang meluncur menuju Bumi.Artikel ini terakhir diperbaharui pada tanggal 18 Agustus 2011, sehari sebelum Elenin hancur. Ini dibahas dalam Don Quijote space probe .Probe dapat digunakan untuk mempelajari efek dari pesawat ruang angkasa yang menabrak asteroid.


1. Sikap NASA 
NASA telah merilis koleksi laporan tentang Komet Elenin. Dalam setiap kasus, organisasi tersebut telah meremehkan pentingnya objek dan dampak potensial terhadap bumi.
Setelah komet itu hancur , Don Yeomans NASA mengatakan: "Saya tidak bisa mulai menebak mengapa komet kecil menjadi sensasi besar.

Kenyataan ilmiah pengaruh ini dirtball sederhana berukuran es itu pada planet kita begitu sangat sangat kecil bahwa mobil subkompak saya memberikan pengaruh gravitasi yang lebih besar di bumi dari komet akan pernah. "

Yeomans menjelaskan bagaimana kehancuran komet ini jarang terjadi, tetapi mungkin: "komet yang rapuh dan longgar seperti bola debu, sehingga tidak perlu banyak untuk mendapatkan sebuah komet hancur, dan dengan komet, begitu mereka hancur, tidak ada harapan rekonsiliasi "Sikap NASA adalah bahwa mereka tidak ingin berbicara tentang Elenin karena tidak layak disebutkan dibandingkan dengan masalah lain.. "

Sabtu, 15 September 2012

Mengukur Alam Semesta


Alam Semesta sangatlah luas, banyak berisi benda-benda langit yang sudah kita kenal maupun belum seperti bintang, galaksi, planet, dan satelit. Namun, para ilmuwan terkadang ingin tahu seberapa jauh benda-benda tersebut satu sama lain, hanya saja terkendala dengan satuan jarak yang bisa dipakai. Kenapa kok bisa gitu?
Kalo di permukaan Bumi, biasanya untuk jarak kita memakai Meter atau Kilometer (Atau di beberapa negara menggunakan satuan Mil), dan satuan ini sangat familiar bagi orang-orang di muka Bumi. Tapi, apakah di luar angkasa satuan ini bisa dipakai? Bisa, hanya aja ada konsekuensinya. Apabila kita membicarakan jarak, rata-rata orang mengatakan bahwa jarak ribuan kilometer itu sudah termasuk jauh, bagaimana dengan luar angkasa? Sebagian besar orang tahu bahwa jarak rata-rata Matahari dan Bumi itu 150.000.000 kilometer (Seratus lima puluh juta kilometer), 150.000 kali lipat dari kata “jauh” yang dipikirkan orang-orang.
Seperti yang udah dibilang tadi, karena Alam Semesta ini luas, maka apabila kita memakai satuan Kilometer akan muncul angka nol yang sangat banyak sekali sehingga tidak praktis. Karena itu, para astronom menggunakan 3 satuan yang umum dipakai yaitu AU (Astronomical Unit)/SA (Satuan Astronomi), Tahun Cahaya/Lightyear, dan Parsec (Parallax per second).
Satuan Astronomi/Astronomical Unit
Seperti yang udah dibilang tadi, Jarak Bumi-Matahari itu 149.600.000 km (Dibulatkan menjadi 150juta km), dan jarak inilah yang menjadi acuan Satuan Astronomi atau Astronomical Unit. Bisa disimpulkan bahwa 1 SA sama dengan 149.600.000 km (Sering dibulatkan menjadi 150juta km untuk memudahkan penghitungan). Namun, biasanya satuan SA digunakan untuk mengukur jarak objek yang masih ada di area Tata Surya kita, seperti halnya Pluto yang berjarak 32 SA.
Tahun Cahaya/Lightyear
Apabila keberadaan objek langit tersebut sudah di luar Tata Surya kita, maka kita bisa menggunakan Lightyear atau Tahun Cahaya. Satuan Tahun Cahaya diambil berdasarkan jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu satu tahun atau tepatnya 9.454.254.955.488 km (Seringkali 1 tahun cahaya sama dengan 9.460.800.000.000 km apabila yang dipakai 300.000km/detik). Dan biasanya satuan tahun cahaya ini yang paling banyak dipakai karena cahaya merupakan sesuatu yang tercepat sampai saat ini (Belum ditemukan sesuatu yang lebih cepat dari cahaya kecuali pengembangan Alam Semesta) dan bisa dibilang fleksibel karena angka yang keluar biasanya gk banyak (Setau saya paling banyak itu sampai digit miliaran).
Parallax per second (Parsec)
Namun, kalo dirasa digit miliaran itu banyak, maka kita bisa gunakan satu unit lagi yaitu Parsec alias Parallax per second. 1 Parsec sama dengan 3,26 tahun cahaya. Dan, Parsec sendiri bisa dikonversikan menjadi empat jenis yaitu Parsec (Pc), KiloParsec (KPc), MegaParsec (MPc), dan yang paling besar GigaParsec (GPc). KPc sendiri sama dengan 1×10^3 , MPc sama dengan 1×10^6, GPc sama dengan 1×10^9.

Akhir kata, semoga artikel ini bisa membantu ^^
Untuk penambahan belaka, ini merupakan konstanta SA dan Kecepatan Cahaya:
SA : 149.600.000 km atau 150.000.000 km
Kecepatan Cahaya : 299.792,458 km/detik atau 300.000 km/detik (Untuk perhitungan menjadi tahun cahaya, kalikan dengan  31536000 detik (Apabila 1 tahun 365 hari)).

Adakah Lautan dan Kehidupan di Triton?



Triton, bulan terbesar milik Planet Neptunus, telah ditemukan sejak tahun 1846 oleh astronom Inggris, William Lassell. Namun, hingga kini Triton masih menyimpan misteri. Satu hal yang dipertanyakan ilmuwan, adakah lautan dan kehidupan di Triton?

Pertanyaan tersebut masuk akal, setidaknya dengan melihat beberapa petunjuk yang diberikan wahana luar angkasa milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Voyager 2, kala melintasi Triton tahun 1989.

Voyager 2 mengungkap bahwa permukaan Triton terdiri atas es, nitrogen, metana, dan karbon dioksida. Karena densitas Triton tinggi, ilmuwan menduga bahwa inti Triton berupa batuan silikat besar. Di bawah permukaan es, diduga terdapat lautan.

Ada satu karakteristik Triton yang mungkin membuatnya bisa punya lautan di bawah permukaannya. Bulan dengan diameter 2.700 kilometer ini punya retrogade orbit, arah orbit yang berlawanan dengan orbit benda langit lainnya.

Orbit Triton berpengaruh pada besarnya pasang surut. Gelombang pasang surut bisa memicu hilangnya energi yang kemudian diubah menjadi panas. Panas bisa melelehkan es di bawah permukaan sehingga menjadi sebuah lautan.

Ilmuwan, seperti diberitakan Space.com pada Kamis (6/9/2012), juga mengungkap bahwa panas yang dilepaskan punya konsekuensi lain, yaitu perubahan bentuk orbit dari elips menjadi lingkaran sempurna.

Panas di Triton tidak hanya dihasilkan oleh pasang surut, tetapi juga bisa berasal dari pemanasan radiogenik. Panas ini berasal dari peluruhan radioisotop dalam Triton itu sendiri. Proses ini bisa menghasilkan panas selama miliaran tahun.

Sekilas, terkesan bahwa panas hasil radiogenik lebih berperan dalam pembentukan lautan di bahwa permukaan. Namun, ilmuwan membuktikan bahwa pemanasan lewat proses ini saja tak akan mempertahankan lautan hingga 4,5 miliar tahun.

Triton terbentuk di wilayah sekitar Planet Neptunus yang disebut Sabuk Kuiper. Di suatu masa, Triton tertangkap oleh gravitasi Neptunus dan menjadi bulan planet itu. Seiring waktu, orbit Triton semakin menyerupai lingkaran.

Dalam penelitian terbaru, astronom menyelidiki pengaruh ketebalan es pada pasang surut dan pemanasan. Jika lapisan es tipis, maka efek pasang surut besar sehingga mungkin lautan masih ada. Jika Triton mendingin dan lapisan es tebal, maka efeknya akan sebaliknya.

Berdasarkan studi, Saswata Hier-Majumder dari University of Maryland mengatakan, "Saya pikir kemungkinan besar lautan yang kaya akan amonia ada di bawah lapisan permukaan Triton. Namun, ada beberapa keterbatasan pengetahuan kita tentang interior Triton dan masa lalunya sehingga sulit untuk memastikannya."

Jika lautan itu memang ada, maka kehidupan sederhana yang bisa bertahan di lingkungan ekstrem mungkin juga ada. Masih mungkin ada enzim makhluk hidup yang bekerja di lautan yang diprediksi bersuhu -97 derajat Celsius. 

Dugaan lain, kehidupan yang ada mungkin berbasis silikon. Silikon diketahui bisa menjadi basis kehidupan seperti halnya karbon. Namun, semuanya masih tidak pasti. Riset ini dipublikasikan di jurnalIcarus yang terbit pada Agustus 2012.

Sabtu, 08 September 2012

Studi: Matahari Lebih Bulat dari yang Diperkirakan


matahari,tata surya

Matahari merupakan objek alam paling bulat yang pernah terukur. Para pakar astronomi memastikan, bulatnya Matahari melebihi yang diperkirakan oleh model komputer.
Memperkirakan bentuk (kebulatan) dan ukuran Matahari dari Bumi amatlah tidak mudah, karena faktor turbulensi udara yang membiaskan cahaya dan menyebabkan pengukuran yang tidak akurat. Begitu pula jika dari pesawat luar angkasa, hanya bisa menghasilkan gambar-gambar dengan resolusi kurang baik.
Namun, penelitian lebih lanjut yang dikerjakan di laboratorium Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA, yang baru diperkenalkan pada Februari 2010, berhasil mengambil gambar yang layak untuk diamati.
Fisikawan di Universitas Hawaii sekaligus peneliti matahari, Jeffrey Kuhn, yang bersama tim internasional lainnya melakukan studi di SDO tersebut, sudah mengambil hampir 50.000 gambar dengan resolusi tinggi selama 2,5 tahun terakhir.
Kuhn berujar, bentuk Matahari selama ini terus berubah-ubah dan menjadi sulit diamati. Penyebabnya karena gravitasi, rotasi, kemagnetan, dan turbulensi di bawah permukaannya.
Sedangkan tidak ada atmosfer di antara Matahari dengan satelit SDO yang mengaburkan gambar, sehingga mereka berhasil mengambil gambar-gambar definitif itu.
Setelah itu, mereka menganalisa data yang didapat. Lewat pengukuran, ternyata apabila Matahari adalah sebuah bola pantai (berukuran lebar 3,3 kaki), maka variasi antara perubahan kebulatan Matahari tingkat teratas dengan terbawah yakni sekitar 17 mikron--kurang dari tebalnya sehelai rambut.
"Kami akan update model komputer daur Matahari dengan hasil penghitungan ini. Tujuannya untuk melihat apakah dan bagaimana bentuk Matahari berpengaruh pada berbagai hal," jelas Kuhn. Studi lengkap dipublikasikan dalam jurnal Science minggu ini.

Jumat, 07 September 2012

Bintang dan Rahasianya


Lihatlah ruangan di sekelilingmu sekarang. Pasti di sana ada banyak obyek dengan materi pembentuk dan warna warni yang berbeda. Padahal semuanya terbuat dari bahan yang sama yakni elemen kimia.
Tentunya kamu juga sudah mengetahui nama sebagian elemen kimia, seperti emas, oksigen dan tembaga. Totalnya, ada 118 elemen kimia. Kamu masih ingat tabel periodik kimia kan? Disana kamu bisa menemukan elemen-elemen kimia tersebut. Artinya, semua yang ada di ruanganmu sekatang dan termasuk juga semua yang bisa kita lihat di Bumi – dibuat dari berbagai elemen kimia tersebut. Dan semua dibentuk hanya oleh 118 elemen kimia saja!
Gugus Bola Messier 4 di Rasi Scorpius. Kredit: ESO Imaging Survey
Hal yang sama juga terjadi pada obyek di luar angkasa. Memang ada beberapa elemen kimia extra di luar sana, tapi para astronom sampai saat ini hanya tahu 118 elemen kimia.
Sebagian besar elemen kimia hanya bisa terbentuk di dalam bintang dan dilepaskan ke luar angkasa ketika bintang meledak sehingga materi-materinya bisa digunakan dalam pembentukan bintang baru. Pada saat pembentukan bintang baru menggunakan materi bintang yang sudah meledak, maka akan lebih banyak lagi elemen kimia yang terbentuk. Artinya, untuk setiap generasi baru dari bintang, akan ada lebih banyak elemen kimia yang tersedia untuk pembentukan bintang yang baru.
Dengan demikian, untuk bintang-bintang yang sangat tua seperti yang ada dalam gugus bintang di foto – tidak banyak jenis elemen kimia yang terkandung di dalamnya. Untuk gugus bintang di foto, elemen kimia yang ada di dalamnya sebagian besar adalah hidrogen dan helium. Tapi, astronom menemukan satu bintang yang sangat aneh di dalam gugus tersebut. Kenapa aneh? Karena ternyata si bintang juga memiliki elemen yang kita sebut lithium. Bagaimana bisa ada lithium? Para astronom pun masih belum bisa menjawabnya!
Fakta menarik: Elemen-elemen kimia baru masih terus ditemukan. Elemen terbaru ditemukan pada tahun 2010 saat para ilmuwan mengumumkan kalau mereka menemukan elemen  “ununseptium”.

Minggu, 19 Agustus 2012

Mengenal Bintang Neutron


Peristiwa bintang meledak atau supernova SN 2012aw di galaksi spiral M95 menggamit minat banyak orang guna mempelajarinya. Sebagian mengamati bintang yang meledak itu secara langsung, entah menggunakan teleskop besar yang berpangkalan di Bumi maupun memanfaatkan beragam teleskop antariksa yang saat ini masih bertugas aktif sembari mengorbit Bumi. Sementara sebagian lainnya berkutat menggali timbunan arsip digital yang pernah dihasilkan oleh teleskop–teleskop tersebut ataupun yang segenerasi dengannya. Sehingga, meski supernova telah diketahui manusia (secara tidak sengaja) sejak hampir 10 abad silam dan penjelasan terhadap fenomena ini telah berkembang pesat dalam seabad terakhir, seiring perkembangan relativitas umum dan mekanikan kuantum dalam fisika, peristiwa supernova kontemporer seperti halnya SN 2012aw menyediakan kesempatan lebih besar bagi kita untuk menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah bintang biasa bertransformasi menjadi benda langit nan eksotik.
Berdasarkan data–data yang berjibun banyaknya di Arsip Warisan Hubble, diketahui kalau bintang induk supernova SN 2012aw sempat terekam lewat mata tajam instrumen Wide Field and Planetary Camera 2 (WFPC 2) teleskop antariksa Hubble antara bulan Desember 1994 hingga Januari 1995. Bintang yang sama juga terekam lewat teleskop antariksa Chandra, yang bekerja pada spektrum sinar–X, pada 2005 silam.
Bintang induk tersebut amat redup, dengan tingkat terang +27 sehingga hanya nampak sebagai bintik putih samar dalam citra WFPC 2. Sebagai pembanding, planet kerdil Pluto saja (yang amat sulit dilihat, bahkan dariobservatorium seperti Bosscha sekalipun) tingkat terangnya masih +14. Sehingga bintang induk SN 2012aw adalah 159 ribu kali lebih redup ketimbang Pluto. Amat besarnya jarak antara Bumi dengan bintang induk SN 2012aw ini, sehingga seberkas cahaya dari bintang itu butuh waktu 32,6 juta tahun hingga tiba di Bumi, membuat bintang itu terlihat amat redup. Padahal sejatinya bintang induk SN 2012aw adalah sebuah bintang maharaksasa yang berkali–kali lipat lebih besar ketimbang Matahari. Kini kita mengetahui, sebelum menjadi supernova, bintang induk SN 2012aw adalah 8 kali lebih berat ketimbang Matahari dan memancarkan energi 1.800 kali lebih besar ketimbang Matahari. Ukuran–ukuran tersebut menempatkan bintang ini sebagai bintang maharaksasa merah (red giant) yang dikenal memiliki suhu rendah. Suhu permukaan bintang ini sekitar 3.670 derajat Celcius, lebih rendah dibanding Matahari kita yang mencapai 6.000 derajat Celcius.
Setelah menjadi supernova SN 2012aw, terjadi peningkatan tingkat terang hingga hampir 14 magnitudo, yang setara dengan peningkatan pelepasan energi hingga sebesar 300 ribu kali lipat dibanding semula. Pantauan teleskop antariksa Chandra memastikan supernova tersebut memiliki suhu sangat tinggi, hingga lebih dari 1 milyar derajat Celcius. Supernova ini juga dipastikan merupakan supernova tipe II, yang merupakan tahap transformasi dari sebuah bintang maharaksasa merah menjadi bintang neutron yang eksotik.
Apa sih bintang neutron itu?
Bintang neutron adalah sebuah benda langit eksotik yang sangat kecil (diameter hanya 10 sampai 15 km saja) namun amat sangat padat. Setetes materi bintang neutron dengan volume ‘hanya’ 1 mililiter memiliki berat lebih dari 100 juta ton. Bintang neutron juga dikenal memiliki rotasi yang amat cepat sehingga mampu menyelesaikan satu putaran dalam tempo kurang dari 1 detik. Beberapa bintang neutron bahkan berputar hanya dalam orde milidetik. Selain itu bintang neutron juga memiliki medan magnet teramat kuat, yakni antara 200 juta hingga 20 trilyun kekuatan medan magnet Bumi. Demikian kuatnya medan magnet ini sehingga mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (yang umumnya berupa awan gas dan debu sisa ledakan bintang) dan memasok mayoritas energi kedalamnya.
Bagaimana obyek seaneh bintang neutron bisa ada di jagat raya?
Segala berawal dari bintang. Dalam perspektif pengetahuan terkini, sebuah bintang bisa eksis di jagat raya sebagai akibat dari berlakunya keseimbangan antara dua gaya yang saling bertolak–belakang. Gaya yang pertama adalah gaya gravitasi, yang cenderung memaksa sebuah bintang untuk terus mengecil (mengerut). Sementara gaya yang kedua adalah gaya tekan akibat tekanan radiasi yang cenderung memaksa sebuah bintang untuk terus membesar (meluas). Ironisnya kedua gaya yang bertolak–belakang itu sama–sama dihasilkan oleh materi didalam bintang itu sendiri.
Awalnya yang donminan adalah gaya gravitasi, yang memaksa sebuah bakal bintang (protobintang) untuk terus mengerut sehingga materi didalamnya menjadi termampatkan. Karena termampatkan demikian kuat, materi itu mengalami pemanasan hebat sehingga timbullah mekanisme Kelvin–Helmholtz yang membuat suhu bakal bintang, khususnya bagian pusatnya, melonjak hebat sekaligus memeras habis elektron–elektron tiap atom materi. Sehingga bakal bintang kini lebih merupakan campuran inti–inti atom dan elektron bebas. Secara alami inti–inti atom bersifat tolak–menolak karena muatan positifnya. Namun pada titik tertentu, yakni dalam suhu lebih dari 10 juta derajat Celcius, energi tiap inti atom mampu mengalahkan gaya tolak–menolaknya. Sehingga inti–inti atom dapat bergabung menjadi satu dan membentuk inti atom baru yang lebih berat.
Inilah reaksi fusi termonuklir, yang melepaskan energi besar sehingga menjaga tingginya suhu yang diperlukan bagi keberlangsungannya. Reaksi ini menghasilkan sinar gamma yang radioaktif dan melesat menjauhi inti dalam jumlah yang amat luar biasa, sehingga menghasilkan tekanan radiasi yang mampu mengimbangi pengerutan akibat gravitasi.
Sebuah bintang umumnya ‘membakar’ Hidrogen untuk diubah menjadi Helium dalam reaksi fusi termonuklirnya, baik secara langsung maupun tak langsung. Meski jumlah Hidrogen dalam bintang terbatas, namun sebuah bintang secara mengagumkan tetap mempertahankan dirinya dengan ‘membakar’ Helium menjadi unsur yang lebih berat, seperti Karbon, agar tekanan radiasinya tetap terjaga. Masalahnya, bagaimana jika Helium pun sudah habis dimasak?
Disinilah garis nasib antara bintang–bintang kurus (yakni yang massanya kurang dari 8 kali Matahari kita) dengan bintang–bintang gendut mulai berbeda. Begitu Helium–nya habis, bintang gendut segera mulai membakar Karbon menjadi Oksigen. Begitu Karbon habis, giliran Oksigen dibakar menjadi Silikon. Dan demikian pula saat Oksigen habis, giliran Silikon yang dibakar menjadi Besi. Setiap tahap pembakaran unsur–unsur tersebut diikuti dengan naiknya kepadatan inti bintang sebesar rata–rata 100 kali lipat nilai semula. Sehingga tatkala Silikon mulai dibakar, kepadatan inti bintang telah mencapai orde 100 ton per mililiter, atau meningkat sejuta kali lipat di atas kepadatan inti Matahari.
Masalah lebih pelik muncul kala Silikon habis terbakar. Reaksi fusi termonuklir tidak mungkin membakar Besi menjadi unsur yang lebih berat lagi, karena pembakaran Besi bersifat endotermik (menyerap lebih banyak energi dibanding yang bisa dihasilkannya). Sehingga reaksi fusi termonuklir pun terhenti. Akibatnya, gravitasi kembali membuat bintang mengerut dan terus mengerut. Ini menyebabkan kepadatan inti bintang meningkat sekaligus menaikkan energi sinar gamma dalam bintang. Akibatnya terjadilah fotodisosasi, dimana sinar gamma mulai memecahkan Besi menjadi unsur–unsur yang lebih ringan secara terus menerus sehingga akhirnya terbentuk Helium. Helium pun akhirnya terurai menjadi proton dan neutron.
Pengerutan menyebabkan sisa–sisa Hidrogen dan Helium yang masih ada terbakar dengan kecepatan reaksi sangat tinggi, jauh di atas normal. Terjadilah ledakan superdahsyat yang melepaskan energi teramat besar dalam sekejap. Inilah supernova tipe II. Dalam kasus SN 2012aw, energi yang dilepaskan setara dengan 540 juta kali lipat energi Matahari kita, padahal energi Matahari tiap detiknya saja sudah setara dengan ledakan 4,6 trilyun butir bom nuklir Hiroshima.
Ledakan yang teramat dahsyat itu melemparkan bagian–bagian bintang yang semula adalah lapisan terluar dan selubung hingga terhempas menjadi remah–remah mikro dan melejit menjauhi lokasi ledakan dengan kecepatan amat tinggi. Pada saat yang sama, inti bintang tetap melanjutkan pengerutan akibat gravitasi sehingga tercapai kepadatan demikian tinggi yang membuat tiap butir elektron memiliki energi lebih dari cukup guna bergabung dengan proton hingga akhirnya membentuk neutron. Reaksi pembentukan neutron adalah juga reaksi endotermis, sehingga dalam kondisi normal takkan dapat terjadi. Inilah yang membuat hampir seluruh bagian pada sisa inti bintang yang telah meledak itu berubah menjadi neutron. Gaya ikat antar neutron kini menjadi pembatas baru yang menghentikan bencana pengerutan lebih lanjut akibat gravitasi bintang induknya.
Sebuah bintang neutron tak mungkin memiliki massa lebih besar dari 1,44 kali lipat Matahari kita (angka ini dikenal sebagai batas Chandrasekhar). Faktanya, massa bintang–bintang neutron yang telah kita ketahui berada dalam rentang antara 1,25 hingga 1,44 kali lipat Matahari. Namun bintang gendut yang menjadi induk bintang neutron haruslah seberat 8 hingga 12 kali lipat Matahari. Dengan demikian, dalam sebuah peristiwa supernova tipe II, sebagian besar massa bintang gendut yang menjadi induknya terlempar keluar menjadi remah–remah sisa ledakan.
Transformasi sebuah bintang gendut menjadi bintang neutron diiringi dengan perubahan radikal periode rotasinya sebagai akibat amat kecilnya ukuran bintang neutron. Sebuah bintang neutron hanya memiliki jari–jari antara 10 hingga 15 km saja. Maka jika sebuah bintang gendut berjari–jari 100 juta km dan massa 8 kali lipat Matahari dan periode rotasi 100 hari berubah menjadi bintang neutron dengan massa 1,4 kali lipat Matahari dan jari–jari 10 km, periode rotasinya menyusurt drastis jadi tinggal 15 milidetik. Interaksi antara cepatnya rotasi bintang neutron dengan besarnya medan magnetiknya menghasilkan pancaran gelombang elektromagnetik terfokus yang turut berotasi cepat, sehingga kita menyaksikannya sebagai kelipan/denyutan. Inilah bintang berdenyut pulsar (pulsating star). Dengan ukuran demikian kecil sementara massanya demikian besar, kuat medan gravitasi (percepatan gravitasi) di permukaan bintang neutron amat besar hingga lebih dari 100 milyar kali lipat percepatan gravitasi di Bumi.
Bagaimana kita berkenalan dengan bintang neutron?
Bintang neutron selalu identik dengan supernova tipe II. Per teori, bintang neutron baru disadari pada abad ke–20 seiring perkembangan pesat fisika yang bertumpu pada dua puncak modern: relativitas umum dan mekanika kuantum. Seorang Subrahmanyan Chandrasekhar menghabiskan waktu pelayarannya di akhir dekade 1920–an dari India ke Inggris (guna menempuh studi di London) dengan menghitung kemungkinan–kemungkinan mengerutnya bintang berdasarkan perspektif relativitas umum. Pada titik inilah ia menemukan batas Chandrasekhar, yang amat menghebohkan dunia ilmiah saat itu.
Walter Baade dan Fritz Zwicky juga memikirkan hal serupa, namun mereka lebih berkonsentrasi pada peristiwa supernova. Namun baru pada 1967, lewat tangan dingin Jocelyn Bell Burnell dan Anthony Hewish di Inggris, bintang neutron pertama menguakkan dirinya sebagai pulsar dengan periode rotasi 1,337 detik. Dan setahun berikutnya pulsar yang memancarkan cahaya tampak pun ditemukan di dalam pusat Nebula Kepiting yang terkenal itu, dengan periode rotasi hanya 33 milidetik.
Observasi Pertama kali terhadap Bintang Neutron dalam cahaya Tampak. Bintang Neutron yang ditunjukkan pada panah putih adalah bintang RX J185635-3754. Credit:en.wIkipedia.org
Namun peristiwa yang menyebabkan terbentuknya bintang neutron, yakni supernova tipe II, sudah dikenali manusia jauh hari sebelumnya (meski tanpa sengaja). Pada 4 Juli 1054, sebuah bintik cahaya yang sangat terang teramati muncul di langit pada rasi Taurus. Demikian terangnya (dengan tingkat terang antara –4 hingga –7,5 atrau lebih terang dibanding Venus) sehingga bintik cahaya tersebut masih tetap bisa dilihat bahkan di siang bolong hingga 27 Juli 1054. Pemandangan ini segera menarik perhatian astronom–astronom kuno di Cina, Jepang, Abbasiyah (Irak), Armenia, Italia dan Amerika Utara. Astronom era Abbasiyah mencatat bintik cahaya terang itu bertahan selama 40 hari di langit, sementara astronom Cina mencatatnya lebih lama lagi karena bertahan hingga 17 April 1056 sebelum kemudian lenyap dari pandangan mata. Pada saat itu tak ada yang tahu benda langit apakah yang menimbulkan bintik cahaya seterang itu.
Pada 1731 John Bevis, astronom amatir Inggris, menemukan sebentuk kabut gas dan debu (nebula) yang samar dan menyerupai nyala api lilin di rasi Taurus. Seabad kemudian, barulah nebula ini mendapatkan namanya yang terkenal : Nebula Kepiting. Namun baru pada 1968–lah sebuah pulsar ditemukan di pusat Nebula Kepiting, awalnya dideteksi lewat teleskop radio Arecibo dan kemudian menyusul dengan teleskop optik.
Nebula Kepiting menyajikan pemandangan hampir lengkap tentang bagaimana nasib sebuah bintang gendut pasca peristiwa supernova. Gas–gas berwarna merah dan kehijauan di bagian pinggir nebula merupakan representasi lapisan–lapisan terluar bintang gendut yang menjadi induk supernova. Remah–remah bintang gendut ini mengembang dengan kecepatan 2.500 km/detik. Sementara gas–gas berwarna kebiruan di bagian tengah dan pusat nebula merepresentasikan elektron–elektron yang dipercepat oleh medan magnetik bintang neutron yang amat kuat sehingga melejit dengan kecepatan setara setengah kecepatan cahaya. Sebagai pembanding, di Bumi kita takkan pernah menyaksikan elektron–elektron secepat itu, kecuali dalam instrumen pemercepat partikel (akselerator) yang dikenal sebagai sinkrotron. Pantauan teleskop antariksa Hubble menunjukkan konsentrasi elektron–elektron yang berkecepatan sangat tinggi itu berada di daerah berbentuk lingkaran yang berjari–jari 0,1 hingga 1 tahun cahaya dari bintang neutron–nya.
Bagaimana jika bintang neutron berada di dekat kita?
Bintang neutron memang berasal dari bintang biasa, namun tak semua bintang mampu bertransformasi menjadi bintang neutron di akhir hayatnya. Matahari kita misalnya, takkan pernah bisa menjadi bintang neutron karena tergolong bintang kurus. Berakhirnya pembakaran Helium pada Matahari kelak hanya akan diikuti dengan mengerutnya Matahari hingga seukuran Bumi kita tanpa dibarengi oleh peristiwa supernova.
Jika sebuah bintang gendut yang berdekatan dengan tata surya kita bertransformasi menjadi bintang neutron melalui peristiwa supernova, sedikitnya ada dua konsekuensi bagi Bumi kita. Yang pertama, supernova tersebut akan menjadikan langit malam yang benderang. Mari gunakan bintang Betelgeuse di rasi Orion yang berjarak 430tahun cahaya dari Bumi kita sebagai contoh kasus. Bintang ini merupakan bintang maharaksasa merah yang telah mencapai tahap bintang variabel, yakni tahap terakhir sebelum menjadi supernova tipe II. Sebagai bintang variabel, Betelgeuse mengembang dan mengerut secara teratur sehingga pancaran cahayanya pun naik–turun secara teratur pula. Jika Betelgeuse meledak sebagai supernova tipe II, maka kenaikan energinya yang amat dramatis akan menjadikan langit malam benderang layaknya malam dengan Bulan purnama. Malam yang terang benderang ini akan bertahan hingga waktu tertentu, mungkin sebulan atau bahkan enam bulan berturut–turut.
Konsekuensi kedua lebih tak kasat mata dibanding yang pertama, namun dampaknya lebih panjang. Selain cahaya, supernova sebenarnya melepaskan energinya dalam seluruh spektrum gelombang elektromagnetik, mulai dari yang terpanjang hingga yang terpendek. Termasuk didalamnya adalah spektrum sinar–X dan sinar gamma, dua jenis sinar yang dikenal bersifat radioaktif karena mampu membentuk ion–ion dari materi yang tersinarinya. Di atmosfer Bumi, pancaran sinar X dan gamma dalam batas intensitas tertentu mampu memecahkan molekul–molekul Nitrogen dan Oksigen untuk kemudian membentuk oksida nitrogen (NOx) dalam rangkaian reaksi yang kompleks. NOx merupakan molekul aktif, yang jika bereaksi dengan molekul berstabilitas rendah seperti Ozon (O3) mampu memecahkannya sehingga terbentuk Nitrogen dioksida (NO2) dan gas Oksigen (O2). Sehingga sinar–X dan gamma yang menembus atmosfer berpeluang merusak lapisan Ozon.
Normalnya, pancaran sinar–X dan gamma yang menembus atmosfer Bumi berasal dari Matahari dengan jumlah sangat kecil sehingga reaksi perusakan Ozon tidak terjadi. Situasinya berbeda jika sinar–X dan gamma tersebut berasal dari supernova tipe II. Dengan suhu yang sangat tinggi (mencapai lebih dari semilyar derajat Celcius), maka spektrum gelombang elektromagnetik yang dipancarkan supernova tipe II akan lebih didominasi oleh sinar–X dan gamma, dengan puncak pada panjang gelombang 0,03 Angstrom untuk suhu semilyar derajat Celcius. Akibatnya intensitas sinar–X dan gamma yang diterima atmosfer Bumi kita dari sebuah supernova tipe II akan cukup besar sehingga tidak hanya mampu merusak lapisan Ozon, namun bahkan memusnahkannya tanpa sisa.
Diperhitungkan, supernova tipe II yang terjadi pada bintang gendut dengan jarak kurang dari 26 tahun cahayamampu memusnahkan seluruh bagian lapisan Ozon di Bumi kita. Sebagai gambaran, saat terjadi peristiwa supernova tipe II di tahun 1054 itu, sempat terjadi kerusakan lapisan Ozon di atmosfer Bumi, yang diindikasikan dari meningkatnya konsentrasi gas–gas oksida nitrogen yang terjebak di lembaran–lembaran es Greenland dan Antartika. Padahal supernova itui berlangsung pada jarak 6.000 tahun cahaya dari Bumi kita.

Macam-macam Bentuk Galaksi


Galaksi merupakan sebuah sistem yang terikat oleh gaya gravitasi yang terdiri atas bintang-bintang(dengan segala bentuk manifestasinya, antara lain bintang neutron dan lubang hitam), gas + debu kosmik medium antarbintang, dan kemungkinan substansi hipotetis yang dikenal dengan materi gelap. Asal mula kata galaksi berasal dari bahasa yunani yaitu galaxias yang berarti susu. Kata galaxias saat itu cenderung mengacu dengan galaksi kita yaitu galaksi bimasakti. Galaksi terdiri dari ratusan bintang (baik bintang ganda maupun bintang tunggal), Cluster, nebula, planet dan medium antar bintang. Matahari yang merupakan salah satu bintang yang mengelilingi galaksi nya sendiri berdasarkan garis edarnya. Galaksi berdasarkan bentuk nya dibedakan atas tiga jenis utama yaitu Galaksi elliptikal, Galaksi spiral, dan Galaksi tak beraturan.
Jenis galaksi Eliptikal adalah jenis galaksi yang diperkirakan mempunyai bentuk ellipsoidal dan terlihat lembut karena terang nya cahaya antar bintang, hampir keseluruhan bentuk fisik nya rata dan terang. Morfologi dari galaksi eliptikal ternyata sangat bermacam-macam mulai dari yang berbentuk hampir bulat seperti eplisoidal hingga hampir berbentuk datar. Dengan beraneka macam nya bentuk yang ada, hal ini ternyata sangat mempengaruhi jumlah dari banyak nya bintang yang ada didalam sebuah galaksi. Mulai dari ratusan juta bintang hingga lebih dari satu trilyun bintang. Klasifikasi morfologi eliptikal ini telah diklasifikasikan oleh Edwin Hubble dalam skema klasifikasi Hubble. Contoh dari jenis Eliptikal galaksi adalah M32, M49 dan M59.
Klasifikasi Skema Hubble pada Galaksi Eliptikal
Jenis Galaksi Spiral adalah jenis galaksi yang terdiri atas pusaran bintang dan medium antar bintang dimana pada garis tengah nya atau pusat galaksi terdiri dari bintang bintang yang berumur sangat tua. Dilihat dari bentuk nya, galaksi berjenis spiral mempunyai lengan yang cerah disetiap sisinya. Dalam klasifikasi skema hubble jenis spiral galaksi diberi daftar dengan kode S(Spiral) dan SB (Barred Spiral) tergantung dengan bentuk lengan nya kemudian diikuti huruf abjad yang mengindikasikan tingkat kerapatan antar lengan spiral dan tonjolan pada pusat galaksi. Seperti hal nya sebuah bintang beserta planet-planet nya, lengan spiral galaksi selalu memutari pusat dari galaksi dengan kecepatan relatif konstan meskipun waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi nya sangat lama. Lengan spiral merupakan daerah pada bagian galaksi yang paling padat materi atau sering disebut “Densiy Waves”. Dibagian inilah grafitasi antar bintang mulai merapat sehingga semakin nampak lengan spiral dari sebuah galaksi maka semakin banyak pula jumlah bintang-bintang dan dibagian inilah tempat dilahirkannya bintang-bintang muda. Contoh dari Galaksi jenis spiral adalah M31 (andromeda), M33 (triangulum) dan M51 (Whirlpool)
Klasifikasi Hubble pada Galaksi Spiral dan Barred Spiral
Jenis galaksi tak beraturan. Jenis galaksi tak beraturan yang dimaksud adalah jenis galaksi yang bentuk nya bukan eliptikal maupun spiral. Pada jenis galaksi ini bentuk dari galaksi sangat bermacam-macam ada yang disebut “Dwarf” Galaksi atau galaksi cebol yang dikarenakan besar galaksi ini lebih kecil dari galaksi pada umumnya, Ring Galaksi yaitu galaksi yang bentuk nya seperti cincin yang mana ditengahnya ada pusat dari galaksi dan Lentikular galaksi dimana Bentuk dari galaksi ini merupakan perpaduan antara jenis Eliptikal dan Spiral. Contoh dari jenis Dwarf Galaksi adalah M110, Ring Galaksi adalah Objek Hoag dan Lentikular galaksi adalah NGC 5866.HG
(Referensi: en.wikipedia.org)
Contoh Jenis Galaksi Eliptikal
Contoh Jenis Galaksi Spiral dan Barred Spiral

Kamis, 16 Agustus 2012

Mengenal Rasi Bintang Scorpius,Si Kalajengking


Rasi Scorpius adalah rasi bintang yang paling menonjol di langit selatan. Sangat mudah mengidentifikasikan bintang ini,yaitu kita dapat melihat 3 bintang yang berada di depan bintang merah,Antares,dan bentuk melengkungnya yang sangat jelas.
Rasi Scorpius beseberangan dengan Rasi Libra dan Lupus disebelah timurnya,Rasi Ara dan Norma disebelah selatannya,dan dengan Corona Australis dan Sagittarius serta sedikit lagi Ophiucus di sebelah baratnya. Scorpius dapat dilihat merangkak melintasi langit selatan dekat horison, dari bulan April hingga September. Untuk pengamat di belahan bumi selatan, Scorpius dapat dilihat tepat di atas langit selatan.

Sejarah


Alkisah ada seorang pemburu yang gagah perkasa bernama Orion. Suatu waktu ia pergi ke Pulau Kreta dan menghabiskan waktunya disana dengan berburu, ditemani oleh Dewi Artemis dan Leto.
Scorpio, si rasi kalajengking. kredit : stellarium
Sang pemburu sangat percaya diri akan kemampuan berburunya dan yakin bahwa ia mampu mengalahkan dan membunuh segala macam makhluk buas yang ada di muka Bumi. Mendengar ini, Dewi Bumi, Gaia, pun marah dan sengaja melepaskan seekor kalajengking raksasa, Scorpius, untuk mengalahkan Orion. Scorpius berhasil membunuh Orion dengan sengatan capitnya. Sebagai pelajaran untuk manusia agar tidak berlaku sombong di atas muka Bumi dan atas permintaan Artemis dan Leto, Dewa Zeus menempatkan dua makhluk ini di langit sebagai sebuah kenangan atas apa yang telah terjadi.
Meskipun keduanya hadir dalam kisah mitologi yang sama, tempat Orion dan Scorpius di langit tidak pernah berdekatan. Malahan, letaknya berseberangan. Seiring dengan kemunculan rasi Scorpius di kaki langit dekat horison, rasi Orion pun perlahan mulai tenggelam di kaki langit seberangnya. Konon sengaja ditempatkan demikian untuk menghindari pertarungan lebih lanjut antara keduanya. Demikianlah asal usul rasi Scorpius hadir di langit malam seperti dikisahkan dalam mitologi Yunani.
Karakteristik
Dikatakan bahwa rasi ini kaya akan bintang dan gugusan bintang, yang sebagian besar dapat dilihat dengan bantuan teleskop kecil. Tiga bintang paling terang di rasi ini adalah Alpha (a) Scorpii atau yang lebih akrab dengan sebutan Antares, Beta (b) Scorpii atau Grafias, dan Delta (d) Scorpii atau Dschubba. Dari ketiganya, yang paling terkenal dan paling terang tentu saja Antares (oleh sebab itu dinotasikan dengan (a) karena kedudukannya sebagai bintang pertama paling terang di rasi ini).
Antares memiliki magnitudo 0,96 dan dilihat dengan mata telanjang berwarna merah cemerlang. Berjarak sekitar 600 tahun cahaya dari kita, Antares merupakan bintang maharaksasa merah. Sifat khas dari bintang raksasa merah adalah cenderung variabel, artinya intensitas cahaya bintang senantiasa nampak berubah-ubah dengan periode tertentu. Antares memiliki perubahan magnitudo dari 0.9 hingga 1.2. Antares berarti anti-Ares atau anti-Mars. Penamaan ini menunjukkan bahwa warna merah Antares bersaing dengan warna merah Mars. Sebenarnya Antares merupakan bintang ganda, tetapi tanpa bantuan teleskop kita tidak mungkin dapat memisahkan kedua komponennya. Bagi yang memiliki teleskop lebih besar dari 10cm, silahkan menikmati bintang pasangan Antares, nampak hijau pucat jika dibandingkan dengan Antares, dengan magnitudo 5.4 dengan separasi sudut ~3”.
Grafias, berjarak sekitar 530 tahun cahaya, juga merupakan bintang ganda yang memiliki dua komponen bintang yang keduanya berwarna biru, satu memiliki magnitudo 2,8 dan satu lagi memiliki magnitudo 5,4. Dschubba yang bertempat di bagian capit rasi ini, merupakan bintang raksasa biru yang terangnya 1530 kali lebih terang dari Matahari kita. Jaraknya dari kita sekitar 402 tahun cahaya. Beberapa bintang lainnya yang juga dapat dilihat dengan mata telanjang pada rasi ini adalah q Scorpii (Sargas), Scorpii (Shaula), n Scorpii (Jabbah) yang merupakan sistem bintang majemuk dengan empat komponen, s Scorpii (Alniyat) yang merupakan bintang ganda, t Scorpii (juga Alniyat), dan Scorpii (Lesath). Selain itu, pada rasi Scorpius terdapat juga bintang variabel, yaitu RR Scorpii. Bintang ini memiliki periode yang panjang. Magnitudo visualnya merentang dari 5.0 12.4 setiap 281.45 hari.
Masih banyak obyek lain yang tidak kalah menarik terdapat di rasi ini, terutama obyek Messier seperti gugus bola M4 dan M80, serta gugus bintang terbuka seperti M7 dan M6. M4, yang letaknya berdekatan dengan bintang Antares, merupakan gugus bola yang mudah diidentifikasi karena terangnya dan ukurannya yang besar. Jaraknya sekitar 6.800 tahun cahaya dan memiliki magnitudo 5,9. Meskipun mudah diidentifikasi, masih sulit untuk melihat gugus bola M4 tanpa bantuan teleskop besar.
Gugus bola lainnya, M80, yang berada di sebelah utara rasi ini adalah gugus bola yang yang agak redup dan sangat padat. Diperlukan teleskop yang sangat besar untuk mempelajarinya dengan detil. M80 memiliki magnitudo 7,2 dan berjarak sekitar 26.000 tahun cahaya. Selain gugus bola, terdapat gugus bintang terbuka M7 dan M6. M7 (disebut juga sebagai gugus bintang Ptolemeus) yang berada di bagian selatan rasi ini, dekat Sagittarius, memiliki magnitudo 3,3 dan berjarak sekitar 780 tahun cahaya. M6 yang berdekatan dengan M7 dan sering disebut juga sebagai gugus kupu-kupu, memiliki magnitudo 4,2 dan berjarak sekitar 2000 tahun cahaya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons