Rabu, 15 Agustus 2012

Bulan Sabit, Antara Sains dan Simbol



Bulan sabit telah lama dijadikan simbol dari segala hal yang bernuansa islami. Penggunaannya sangat luas, mulai dari simbol di atas kubah masjid, gerakan kepalangmerahan, lambang partai politik, hingga lambang sejumlah negara. Bentuk yang paling banyak digunakan adalah sabit tegak mirip huruf C. 

Bentuk bulan sabit berbeda-beda bergantung dari posisi tempat terkait di muka Bumi. Di sekitar khatulistiwa, posisi bulan sabit seperti huruf C telentang. Menjauhi khatulistiwa, bentuknya makin miring mirip huruf C.

”Di daerah yang terletak pada 40-60 derajat Lintang Utara atau Lintang Selatan, bentuk bulan sabit terlihat tegak seperti huruf C,” kata Judhistira Aria Utama dari Laboratorium Bumi dan Antariksa, Universitas Pendidikan Indonesia, Senin (6/8).

Helmer Aslaksen, pengajar Departemen Matematika di National University of Singapore dalam artikel What Does the Waxing or Waning Moon Look Like in Different Parts of the World? menyatakan, bulan sabit muda di belahan Bumi utara, yang menandai awal bulan dalam penanggalan Hijriah, terlihat mirip huruf C terbalik. Adapun bulan sabit tua yang menandai akhir bulan Hijriah akan berbentuk mirip huruf C.

Artinya, fase Bulan dari sabit muda hingga sabit tua di belahan Bumi utara bergeser dari bagian kanan Bulan ke bagian kiri. Kondisi ini terjadi karena gerak Bulan di belahan Bumi utara searah dengan jarum jam.

Sebaliknya, di belahan Bumi selatan, bulan sabit muda terlihat mirip huruf C dan sabit tua mirip huruf C terbalik. Bulan di belahan Bumi selatan bergerak berlawanan arah jarum jam.

Di khatulistiwa, bulan sabit muda dan tua bentuknya sama, hanya ditentukan oleh posisi dan waktu terlihatnya. Bulan sabit muda yang terlihat di ufuk barat setelah Matahari terbenam, sedangkan bulan sabit tua terlihat di ufuk timur sebelum Matahari terbit.

Di khatulistiwa, semua benda langit terbit dan terbenam tegak lurus terhadap horizon (ufuk). Ini membuat bulan sabit muda ataupun sabit tua sama-sama telentang ke atas.

Arah sabit luar Bulan selalu menunjukkan arah datangnya sinar Matahari. Saat sabit muda, sinar Bulan berasal dari Matahari menjelang terbenam. Sedangkan pada sabit tua, sinar Bulan berasal dari Matahari yang belum terbit. Ini sebabnya tak ada bentuk sabit telungkup.

Simbol

Selain kesalahan penentuan posisi bulan sabit berdasarkan wilayah, kata Judhistira, bentuk bulan sabit yang digambarkan banyak yang berbeda dengan kondisi riil di alam. Sejumlah simbol menggambarkan bentuk sabit hampir seperti lingkaran penuh dengan kedua ujung sabit hampir bertemu.

Di alam bulan sabit selalu membentuk setengah lingkaran. Ini karena hanya separuh Bulan yang menerima pancaran sinar Matahari.

Penempatan bintang di antara ujung sabit juga tidak tepat. Bagian gelap di tengah bulan sabit bukan ruang kosong, tetapi bagian Bulan yang tidak menerima pancaran sinar Matahari.

Seperti benda-benda langit lain yang memiliki gravitasi dan berputar pada porosnya, bentuk Bulan seperti bola. Fase-fase Bulan mulai dari bulan mati, sabit muda, seperempat pertama, tiga perempat pertama, purnama, hingga kembali lagi ke Bulan mati terbentuk akibat dinamika Bulan yang berputar pada porosnya sembari mengelilingi Bumi. (lihat grafis)

Kalaupun terlihat bintang, itu akan berada di dekat Bulan, bukan di lingkaran Bulan.

Penggambaran bulan sabit telentang dapat ditemukan di sejumlah masjid lama atau lambang Partai Masyumi di masa Orde Lama. Namun, bentuknya tidak sesuai kondisi sebenarnya.

Penggambaran bentuk bulan sabit yang benar ada di relief Candi Borobudur. Relief bulan sabit separuh lingkaran dan telentang terletak di tingkat empat sisi utara Candi Borobudur.

”Bahasa simbol tidak selalu sejalan dengan sains. Tidak berarti itu salah. Simbol dibuat tidak selalu berdasarkan realitas di alam,” kata Judhistira.

Hal senada diungkapkan Guru Besar Sejarah Kebudayaan Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Sukron Kamil. ”Bulan sabit itu soal identitas, harus dibedakan dengan realitas,” ujarnya.

Bulan sabit sebagai simbol Islam mulai digunakan pada masa Abdul Malik bin Marwan yang meletakkan simbol bulan sabit pada kubah Masjid Al Aqsa di abad ke-7 Masehi. Kubah yang dinamai Kubah As Sakhra ini berupa kubah batu, bukan yang ada di Masjid Al Aqsa saat ini.

Simbol ini juga digunakan sebagai lambang pasukan Islam yang dipimpin Shalahuddin Al Ayyubi dalam perang salib pada abad ke-12. Di era modern, simbol ini digunakan di masa Usmaniyah atau Ottoman di Turki pada abad ke-18.

Sejak itu, simbol bulan sabit menyebar sebagai identitas kultural Islam ke seluruh dunia. Ia banyak dijadikan lambang negara Islam atau berpenduduk Muslim, seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Turki, Pakistan, Aljazair, Tunisia, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Azerbaijan.

Simbol ini juga digunakan untuk lambang yang tak terkait Islam, seperti simbol kota Sintra di Portugal, Tranow di Polandia, Portsmouth di Inggris.

Menurut Sukron, simbol dipakai berdasarkan kesepakatan atau konvensi semata. Antara tanda dan makna yang dikandung biasanya memiliki hubungan logis. ”Yang penting dalam simbol bulan sabit bukan posisi atau bentuk bulan sabit, tapi maknanya,” kata Sukron.

Penggunaan bulan sabit sebagai penanda masjid di Indonesia, kata Sukron, berlangsung setelah kemerdekaan dan makin masif sesudah reformasi. Hal ini seiring maraknya penggunaan kubah sebagai atap masjid.

Masjid asli Nusantara umumnya menggunakan atap berundak dengan ujung atas berupa tiang mirip tusuk sate di atas Gedung Sate, Bandung, atau berupa mustaka beraneka bentuk.

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons