Minggu, 08 Juli 2012

Qian Xuesen, Sang Raja Roket China




Menjadi kekuatan baru teknologi antariksa, China patut menghaturkan soja pada Qian Xuesen. Sebaliknya, Amerika Serikat layak menyesal kenapa sampai mengusir ilmuwan brilian itu. Ditendang Paman Sam pada tahun 1950-an atas tudingan menjadi mata-mata komunis, Qian sejatinya turut berjasa memelopori teknologi dirgantara terapan dan ruang angkasa AS. 
 
"Itu adalah hal paling bodoh yang negara ini pernah perbuat," kata Dan Kimball, mantan pejabat Departemen Pertahanan AS urusan Angkatan Laut, sebagaimana dikutip majalah ilmiah "Aviation Week and Space Technology".   
 
Dalam sebuah obituari pada 3 November 2009, harian The New York Times mendeklarasikan Qian sebagai “seorang ilmuwan roket brilian yang memimpin upaya China membangun roket antariksa dan militer setelah ditendang keluar oleh Amerika Serikat di era kampanye McCarthy." Qian menjadi korban fobia komunis yang diruapkan Senator Joseph McCarthy melalui kampanye anti komunis terhadap orang-orang yang dicurigai berlatar belakang atau menjadi simpatisan komunis. Bagi McCarthy, mereka patut dicurigai menjadi mata-mata palu-arit. 
 
Dan Qian tak pelak menjadi sasaran, lantaran dia berasal dari China. Padahal, dia hijrah ke Amerika lantaran mendapat bea siswa dari pemerintah AS di usia 23 tahun pada 1934. Saat itu, China dikecamuk perang saudara dan Partai Komunis belum menjadi kekuatan besar dan masih harus bergerilya dari kampung ke kampung. 
 
Sebagai pelajar yang cemerlang di ilmu teknik mekanik, Qian yang lahir di Hangzhou pada 1911 itu berkesempatan menimba ilmu di salah satu kampus elit AS, Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di sini dia belajar teknik aeronautika. Selepas dari MIT, dia masuk Institut Teknologi California (Caltech) sebagai asisten Theodore von Karmman, seorang fisikawan terkemuka. 
 
Von Karman, seperti dikutip The New York Times, menyebut Qian sebagai "seorang jenius yang karyanya telah memberikan dorongan luar biasa bagi pengembangan aerodinamika dan tenaga dorong jet berkecepatan tinggi." Berkat rekomendasi von Karman, Qian lalu bergabung dengan Badan Penasihat Ilmu Pengetahuan AS. Di lembaga ini, dia menjadi tokoh sentral dalam penelitian untuk mengembangkan roket pertama AS yang berbahan bakar bensin padat. Roket ini berhasil diluncurkan. 
 
Dikenal juga dengan nama Tsen Hsue-shen. Qian membantu penelitian mengenai tenaga dorong roket dan pada dekade 1940-an dia turut mendirikan Laboratorium Tenaga Dorong Jet, yang kini menjadi salah satu pusat eksplorasi terkemuka Badan Antariksa AS (NASA).
 
Qian bahkan membantu militer AS di Perang Dunia II. Saat berdinas di Badan Penasihat Ilmu Pengetahuan AS, dia menjadi konsultan Angkatan Darat untuk pengembangan teknologi rudal balistik. Di akhir perang, dengan pangkat kehormatan letnan kolonel, Qian bahkan sempat dikirim ke Jerman untuk menginterogasi para ilmuwan Nazi yang menyerah kepada Sekutu. Salah satunya adalah Wernher von Braun, yang belakangan berjasa membantu AS di bidang teknologi antariksa.  
 
"Tidak ada yang menyangka saat itu, bahwa orang yang nantinya menjadi bapak program luar angkasa AS diperiksa oleh seseorang yang di kemudian hari menjadi ‘bapak program luar angkasa China’," demikian ditulis majalah Aviation Week, yang menobatkan Qian sebagai "Tokoh Tahun Ini" pada 2007.  
 
Di Jerman pula, Qian lalu diberi kepercayaan menganalisis fasilitas-fasilitas roket V-2 milik Nazi, yang turut memukau AS. Pada 1949, dia menulis proposal pembuatan sebuah pesawat antariksa bersayap. Menurut majalah Aviation Week and Space Technology 2007, proposal Qian itu menjadi inspirasi bagi penelitian pengembangan pesawat ulang-alik NASA.   
 
Dituduh Komunis
 
Perang Dingin menamatkan karir cemerlang Qian di Amerika. Setelah mengajukan izin untuk mengunjungi keluarganya di China, yang baru setahun dikuasai Komunis, Qian justru dilucuti hak-haknya sebagai ilmuwan oleh Biro Penyelidik Federal (FBI) dan akhirnya dituduh merupakan seorang komunis. 
 
Tuduhan itu, seperti yang dihimpun Michael Wines dan Xiyun Yang untuk harian New York Times, didasarkan pada dokumen dari Partai Komunis AS pada 1938 yang isinya mengungkapkan Qian pernah menghadiri suatu acara sosial di Pasadena, yang dianggap FBI sebagai pertemuan Partai Komunis setempat.   
 
Dalam sebuah laporan yang ditujukan ke Kongres AS pada 1999, Qian dituding merupakan seorang mata-mata dan telah menyerahkan rahasia program rudal Titan milik AS kepada China. Belakangan, kesahihan laporan itu dipersoalkan lantaran terungkap fakta bahwa program rudal Titan justru dimulai beberapa tahun setelah Qian diusir dari AS.  
 
Qian sendiri telah membantah semua tuduhan itu. Teman-temannya warga AS pun ikut membela. Caltech sampai menyewa pengacara untuk membantu Qian secara hukum. Rencana dia untuk pulang kampung menjenguk orang tuanya, akhirnya malah membuat dia menjadi tahanan rumah selama lima tahun. 
 
Qian kukuh bertahan bahwa dia bukanlah seperti yang dituduhkan pemerintah AS. Namun, Washington rupanya keras kepala. Pada 1955, Qian dideportasi ke China. Menurut Los Angeles Times, Qian rupanya menjadi bagian dari program pertukaran tahanan. Dia ditukar dengan 11 penerbang Amerika yang ditahan selama Perang Korea. 
 
Sejak saat itu dia tidak pernah kembali lagi ke AS. "Saya tidak punya alasan untuk kembali. Saya justru berencana berbuat yang terbaik untuk membantu rakyat China membangun bangsa ke posisi di mana mereka bisa hidup dengan terhormat dan bahagia," ujar Qian kepada wartawan suatu ketika.  
 
Terang, Qian sudah sakit hati. “Dia sudah kehilangan kepercayaan kepada pemerintah AS, meski dia tetap memiliki perasaan hangat kepada rakyat Amerika," tulis mantan koleganya di Caltech, Profesor Frank Marble. Pada 2001, Caltech menganugerahkan penghargaan kepada Qian sebagai seorang alumnus dengan prestasi luar biasa.   
 
Kembali ke China, keahlian Qian langsung dimanfaatkan rezim komunis pimpinan Mao Zedong. Dia diangkat menjadi Direktur Penelitian Roket yang bertugas mengembangkan teknologi rudal dan, belakangan, misi antariksa China. Dedikasi dan karyanya membuat Qian menjadi anggota Partai Komunis, dan bahkan lalu masuk dalam Komite Pusat partai.  
 
Qian memimpin program rudal balistik Dongfeng dan roket luar angkasa bernama Long March. Berkat karya jeniusnya, China pada 1970 berhasil meluncurkan satelit yang pertama. Sejak itu, di Negeri Tirai Bambu, Qian dianggap sebagai pahlawan. "Dia dikenal sebagai Bapak Roket China atau Raja Roket Tiongkok," demikian tertera pada harian pemerintah People's Daily
 
Dikaruniai panjang umur —Qian wafat di usia 97 tahun pada 31 Oktober 2009-- Qian sempat menyaksikan sejumlah peluncuran roket ke antariksa yang merupakan hasil karyanya. Salah satu yang terpenting: menjadi saksi mata atas keberhasilan China mengirimkan taikonot pertama ke luar angkasa pada 2003. 

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons